• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

SpaceX Selidiki Puing-puing Antariksa yang Jatuh di Australia

SpaceX Crew-1 Dragon mendarat di sebelah tenggara Australia / NASA
SpaceX Crew-1 Dragon mendarat di sebelah tenggara Australia / NASA

JAKARTA, kilat.com- SpaceX mengirimkan tim penyidik untuk dapat melakukan penyelidikan terhadap puing-puing Antariksa yang jatuh di pedalaman Australia. Hal ini diketahui dari adanya laporan mengenai pecahan pesawat ruang angkasa SpaceX Crew-1 Dragon mendarat di sebelah tenggara Australia.

"Kami memang mendapatkan laporan puing-puing dari bagasi," kata Benjamin Reed, direktur senior program luar angkasa manusia SpaceX, dalam konferensi pers NASA Crew-5 yang disiarkan langsung Kamis (4/8/2022) dikutip dari Space.com.

SpaceX menyebutkan bahwa “Bagasi” yang di maksud ialah sebuah ruang kargo yang tidak memiliki tekanan dan dapat mendukung Crew Dragon selama masa peluncuran. Panel surya membentuk setengah dari bagasi, untuk memberi daya pada Dragon selama operasi penerbangan atau docking.

Saat pesawat ruang angkasa Crew-1 memasuki kembali atmosfer Bumi pada 2 Mei 2021, bagasi secara alami terpisah dan masuk kembali ke Australia lebih dari setahun kemudian, yakni 8 Juli.

Menurut laporan ABC Australia, setidaknya dua puing antariksa hangus ditemukan di sebuah lahan pertanian besar. Hal itu terjadi usai laporan ledakan sonik tepat di bawah zona masuk kembali ke Bumi yang diproyeksikan untuk bagasi wahana itu.

Baca Juga :
Ilmuwan China Akan Gunakan Satelit Bulan untuk Pahami Hari-hari Awal Bumi, Ada Apa Ya?

Amerika Serikat (dan perusahaan seperti SpaceX yang diluncurkan dari sana) diklaim mengikuti Praktik Standar Mitigasi Puing Orbital yang dibuat pemerintah yang mengatur kemungkinan jatuhnya puing-puing luar angkasa.

Reed menekankan bahwa "tidak ada cedera, tidak ada kerusakan" yang terkait dengan laporan tersebut. Dia mengatakan, jika itu memang perangkat keras SpaceX, itu berada dalam "jalur yang direncakan".

"Itu bagian dari proses yang kami lakukan dengan NASA dan dengan FAA (Administrasi Penerbangan Federal AS), secara internal," kata Reed, "Kami menggunakan model yang pada akhirnya disetujui, untuk memprediksi dan merencanakan hal-hal ini."

"Segmen bagasi biasanya terbakar di atmosfer di atas lautan terbuka yang menimbulkan risiko minimal bagi keselamatan publik," menurut pernyataan dari FAA, yang berwenang dalam izin dan pengawasan operasi penerbangan luar angkasa komersial di AS.

"Dalam hal ini, [bagasi] kemungkinan tetap berada di orbit selama lebih dari satu tahun dan beberapa perangkat keras bertahan untuk mencapai Bumi," lanjutnya.

Baca Juga :
Merasa Hari-hari Bumi Semakin Lama? Begini Penjelasan Ahli

Sebelumnya, perangkat keras SpaceX sudah pernah dikonfirmasi dan dikabarkan jatuh ke Bumi pada April 2021, puing-puing peluncuran SpaceX berakhir di sebuah peternakan di Washington, AS, dan dikaitkan dengan tahap kedua roket Falcon 9.

Otoritas setempat mengkonfirmasi kejatuhan itu, meskipun SpaceX tidak menanggapi permintaan komentar saat itu.

Kali ini, SpaceX mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan bekerja dengan FAA, Departemen Luar Negeri AS, dan Badan Antariksa Australia untuk mengoordinasikan penyelidikan. Mereka mengaku akan "mempelajari semua yang kami bisa" dari pengalaman tersebut.

"Kami mencari cara agar kami dapat meningkatkan hal-hal tetapi sekali lagi, ini dalam analisis kami," tambah Reed. "Kami sedang menggalinya." (nda)

Baca Juga :
Polisi Pastikan Kerangka Manusia di Tegalbuleud Sukabumi Korban Pembunuhan

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA