• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Waduh! Gunung Berapi Bawah Laut Tonga Ternyata Dapat Pengaruhi Lapisan Ozon

Penampakan Gunung Berapi Bawah Laut Tonga ketika alami Letusan / WION NEWS
Penampakan Gunung Berapi Bawah Laut Tonga ketika alami Letusan / WION NEWS

JAKARTA, kilat.com- Letusan intens Hunga Tonga-Hunga Ha'apai pada 15 Januari 2022, memecahkan semua rekor untuk injeksi langsung uap air oleh gunung berapi atau sebaliknya di "era satelit". Itu juga mengirimkan sejumlah besar abu ke stratosfer.

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di Geophysical Letters, ledakan dahsyat itu menyemburkan uap air hingga ketinggian 53 km.

Letusan Tonga mungkin merupakan letusan gunung berapi pertama yang diamati berdampak pada iklim tidak melalui pendinginan permukaan yang disebabkan oleh aerosol sulfat vulkanik, melainkan melalui pemanasan permukaan yang disebabkan oleh uap air berlebih,” catat studi tersebut.

Sesuai Live Science, gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai meletus dengan kekuatan yang setara dengan 100 bom Hiroshima, menjadikannya ledakan paling kuat yang pernah terjadi di Bumi dalam lebih dari 30 tahun.

Ledakan itu mengguncang seluruh dunia, membuat atmosfer "berdering seperti lonceng" dan menyebabkan tsunami menghantam garis pantai yang berdekatan.

Baca Juga :
Keren! TNI AL Kibarkan 77 Bendera Merah Putih di Bawah Permukaan Laut

Lebih dari 590.000 sambaran petir terjadi selama tiga hari karena letusan. Awan abu dan debunya naik lebih tinggi ke atmosfer daripada letusan sebelumnya dalam sejarah.

Ledakan besar melepaskan beberapa gas beracun dan banyak air ke atmosfer, yang keduanya sekarang merusak stratosfer planet kita. Berapa banyak air yang dipercepat oleh gunung berapi?

Menurut para ahli dari National Aeronautics and Space Administration (NASA), University of Edinburgh, dan NorthWest Research Associates, letusan tersebut menyuntikkan jumlah air yang tak tertandingi cukup untuk mengisi 58.000 kolam renang ukuran Olimpiade.

Kolam renang standar Olimpiade memiliki panjang 50 meter, lebar 25 meter, dan kedalaman 3 meter. Bahaya apa yang bisa datang dari air di atmosfer?

Volume besar SO2 biasanya dilepaskan ke atmosfer selama letusan gunung berapi, yang mendinginkan dunia. Anehnya, Tonga tidak banyak mengeluarkan HCl atau SO2.

Baca Juga :
Serentak di 77 Titik Indonesia, Polda Papua Gelar Upacara Bawah Laut Jayapura Kerahkan 53 Personel

"Letusan ini dapat berdampak pada iklim tidak melalui pendinginan permukaan karena aerosol sulfat, melainkan melalui pemanasan permukaan karena kekuatan radiasi dari kelebihan H2O stratosfer," kata penelitian tersebut.

Ini berarti bahwa Para peneliti memperingatkan bahwa air ekstra ini mungkin memancarkan panas, menghangatkan atmosfer seperti halnya gas rumah kaca.

Efek pemanasan air kemungkinan akan bertahan lebih lama dari efek pendinginan yang dihasilkan gas karena diperkirakan bertahan lebih lama daripada gas vulkanik lainnya seperti sulfur dioksida, yang biasanya jatuh dari atmosfer dalam dua hingga tiga tahun.

Menurut ahli geologi, ini menunjukkan bahwa ledakan Tonga mungkin akan menjadi letusan pertama yang diketahui memiliki pengaruh pemanasan di dunia daripada efek pendinginan. (nda)

Baca Juga :
Gagal Fokus! ala Luar Negeri, 3 Wisata Sumbar Ini Sangat Hits dan Instagramable

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA