• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Perang Rusia-Ukraina Makin Memanas, Putin Kode Nuklir

Vladimir Putin larang investor Barat jual saham bank dan proyek energi dari Rusia. (AP/Alexander Zemlianichenko)
Vladimir Putin larang investor Barat jual saham bank dan proyek energi dari Rusia. (AP/Alexander Zemlianichenko)

JAKARTA, kilat.com- Perang Rusia dan Ukraina tampaknya akan semakin memanas. Pasalnya Rabu (21/9/2022), Presiden Vladimir Putin, mengumumkan mobilisasi parsial di Ukraina.

Pengumuman tersebut diutarakan langsung Putin di media televisi. Ini setelah serangan balik Ukraina, yang diyakini memakan banyak korban tentara Rusia.

Putin memperingatkan Barat bahwa ini bukan hanya gertakan semata. Rusia bakal melakukan segala cara untuk melindungi kawasannya.

Putin menggarisbawahi ancaman nuklir Rusia. Menurut dia Rusia mempunyai sejumlah alat penghancur untuk melindungi negaranya.

"Saya ingin mengingatkan Anda bahwa negara kami juga memiliki berbagai alat penghancur untuk melindungi Rusia dan rakyat, kami pasti akan menggunakan semua cara yang kami miliki," kata Putin pada Kamis (22/9/2022).

Baca Juga :
Perangkat Desa di Taliabu Maluku Utara Geruduk Kantor DPRD, Tuntut Hal Ini

Dengan ini Putin menyampaikan telah menandatangani dekrit khusus. Mobilisasi parsial menempatkan Rusia di situasi perang di mana wajib militer warga menjadi keharusan.

Pengumuman mobilisasi parsial tersebut berarti bahwa semua pihak di negeri itu mesti berkontribusi lebih pada upaya perang. Bukan hanya warga tapi juga bisnis.

Ia juga memberi dukungan pada pencaplokan wilayah Timur dan Selatan Ukraina lewat referendum.

Sebelumnya pro Rusia mengumumkan pemungutan suara berlangsung minggu ini.

Menteri Pertahanan Sergey Shoigu menyampaikan negerinya bakal mengirimkan 300.000 pasukan ke Ukraina.

Baca Juga :
Buka Parliamentary Speakers Summit, Ini 7 Isu Strategis yang Dibahas Ketua DPR RI

Ini juga mematahkan pandangan bahwa Rusia sudah kekurangan pasukan akibat banyaknya kematian militer ketika menyerang tetangganya tersebut.

Menurut Shoigu, Rusia mempunyai kemampuan mobilisasi yang begitu besar. Bahkan dapat memanggil hampir 25 juta orang dengan beberapa pengalaman militer untuk berpartisipasi dalam kegiatan memperkuat negara tersebut ketika perang.

"Jadi bisa dikatakan bahwa mobilisasi parsial ini hanya 1%, atau sedikit lebih dari jumlah total orang yang dapat dimobilisasi," jelasnya.

Sejumlah negara Eropa bereaksi terhadap pengumuman baru Putin. Mulai dari Prancis, Finlandia sampai Polandia.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Rabu mendesak dunia meningkatkan tekanan pada Putin usai pemimpin Rusia tersebut mengumumkan mobilisasi parsial. 

Baca Juga :
Presiden Jokowi ke Peserta P20: Parlemen Global Harus Selesaikan Masalah Masa Depan

Barat, ujarnya, harus memakai "semua cara" yang dimilikinya untuk membuat Putin mengubah arah.

"Saya sangat menyesali pilihan Presiden Putin untuk menyeret negaranya, terutama kaum muda, ke dalam perang," jelas Macron kepada wartawan di New York.

"Jadi Rusia semakin terisolasi dan terlibat dalam perang yang diinginkannya sendiri dan itu ilegal dan tidak sah," ujarnya.

Perdana Menteri (PM) Polandia Mateusz Morawiecki menyampaikan, Rusia berupaya untuk menghancurkan Ukraina dan mengubah perbatasannya. Polandia, tambahnya, bakal terus mendukung Ukraina bersama sekutu.

"Kami akan melakukan semua yang kami bisa dengan sekutu kami, sehingga NATO lebih mendukung Ukraina sehingga dapat mempertahankan diri," jelas Morawiecki, sebagaimana dikutip Reuters.

Baca Juga :
Puan Maharani: Pertemuan P20 Sangat Strategis Bicarakan Ekonomi Dunia

"Rusia akan berusaha untuk menghancurkan Ukraina dan merebut sebagian wilayahnya. Kami tidak dapat mengizinkannya," ungkapnya.

Finlandia memantau situasi ini. Tetapi pasukan pertahanan negara tersebut telah bersiaga.

"Pasukan pertahanan kami sudah dipersiapkan dengan baik dan situasinya dipantau secara ketat," jelas Menteri Pertahanan Finlandia Antti Kaikkonen.

Sedangkan AS menekankan ke ancaman nuklir Putin. Ia disebut "tidak bertanggung jawab" serta menimbulkan ancaman memakai senjata nuklir secara serius.

"Ini adalah retorika yang tidak bertanggung jawab bagi kekuatan nuklir untuk berbicara seperti itu. Tapi itu tidak biasa untuk bagaimana dia berbicara selama tujuh bulan terakhir dan kami menganggapnya sangat serius," jelas juru bicara Gedung Putih, John Kirby kepada ABC.

Baca Juga :
Agenda G20 Parliamentary Speakers Summit P20: Ketua DPR RI-Ketua Parlemen Rusia Bahas Penyelesaian Konflik Rusia-Ukraina

"Akan ada konsekuensi yang parah. Dia tidak hanya akan menjadi lebih paria di panggung dunia, tetapi juga harus ada konsekuensi berat yang akan dialami masyarakat internasional," ujarnya.

Dikutip AFP, analis politik internasional Tatiana Stanovaya di Telegram menyampaikan pengumuman Putin adalah kode perang nuklir. Bukan cuma untuk Ukraina tapi juga Barat.

"Ini adalah ultimatum yang benar-benar tegas dari Rusia ke Ukraina dan Barat: apakah Ukraina mundur atau perang nuklirnya," jelasnya. (ara)

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA