• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Mulai Tinggalkan Gas Alam, BMW Jajaki Investasi Energi

Logo BMW dipotret sebelum konferensi pers tahunan produsen mobil premium BMW di Munich, Jerman, pada 19 Maret 2014. (ANTARA/REUTERS/Michaela Rehle/File Foto)
Logo BMW dipotret sebelum konferensi pers tahunan produsen mobil premium BMW di Munich, Jerman, pada 19 Maret 2014. (ANTARA/REUTERS/Michaela Rehle/File Foto)

JAKARTA, kilat.com- BMW sedang menjajaki investasi baru dalam energi surya, panas bumi, dan hidrogen untuk menurunkan ketergantungannya pada gas alam.

Produsen mobil, yang mengandalkan gas alam untuk 54 persen konsumsi energinya pada tahun 2021, sedang memeriksa di mana mereka dapat menambahkan panel surya ke pabriknya dan mengembangkan rencana dengan otoritas lokal untuk mengangkut hidrogen ke pabrik di Leipzig, Jerman.

"Hidrogen sangat cocok untuk menurunkan atau bahkan sepenuhnya mengimbangi permintaan gas," kata Milan Nedeljkovic, Senin (23/5/2022).

"Industri kami menyumbang sekitar 37 persen dari konsumsi gas alam Jerman," katanya ketika ditanya apa yang akan terjadi pada pabrik BMW jika terjadi penghentian pengiriman gas dari Rusia.

"Bukan hanya BMW, tetapi seluruh sektor akan terhenti," sambung dia.

Baca Juga :
Pabrik di China Mulai Beroperasi, BMW Fokus Genjot Produksi Mobil Listrik

Rencana BMW mencerminkan persiapan yang lebih luas yang sedang berlangsung di seluruh industri Jerman untuk beralih dari gas Rusia dan menghasilkan sistem untuk menjatah pasokan yang tersedia jika terjadi penghentian pengiriman secara tiba-tiba.

Di luar Jerman, pabrik baru di Debrecen, Hungaria, yang menurut BMW akan menjadi pabrik mobil pertama di dunia yang sepenuhnya beroperasi tanpa bahan bakar fosil, akan sangat bergantung pada tenaga surya, kata Nedelkjovic, seraya menambahkan bahwa pembuat mobil itu juga mempertimbangkan untuk menggunakan energi panas bumi.

Tenaga panas bumi lebih stabil daripada energi terbarukan yang bergantung pada cuaca, tetapi belum melihat pertumbuhan atau investasi yang sebanding. Hal itu karena biaya di muka yang tinggi dan proses perizinan yang rumit untuk pengeboran.

Ditanya tentang potensi energi nuklir, yang menyumbang sekitar setengah dari pasokan energi Hungaria tetapi sedang dihapus di Jerman, Nedeljkovic mengatakan energi nuklir dapat menjadi faktor penstabil, terutama di masa yang bergejolak ini.

"Untuk produksi kami sendiri, kami mengandalkan sumber energi regeneratif," ucap dia. (ant/mir)

Baca Juga :
SUV Listrik BMW akan Uji Coba Baterai Ramah Lingkungan

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA