• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Taliban Deklarasikan Emirat Islam, Apa Bedanya dengan Republik Islam dan Khilafah?

  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
Seorang anggota Taliban berdiri di jalanan di Kota Ghazni, Afghanistan, Sabtu (14/8/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/HP
Seorang anggota Taliban berdiri di jalanan di Kota Ghazni, Afghanistan, Sabtu (14/8/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/HP

Kamis (19/8/2021) kemarin, adalah tepat 102 tahun kemerdekaan Afghanistan dari penjajahan Inggris. Sebelumnya, sebagaimana dilaporkan Aljazeera (18/08), sejumlah masyarakat Afghanistan berunjuk rasa menolak kekuasaan Taliban dengan mengibarkan bendera nasional Afghanistan di jalanan di beberapa kota seperti di Kota Jalalabad. Unjuk rasa itu kemudian menjadi sebuah bentrokan dengan tentara Taliban dan menyebabkan beberapa orang meninggal dan beberapa orang mengalami luka-luka.

Sementara itu pada hari yang sama dan dalam rangka merayakan hari yang sama, melalui akun twitternya, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, mengumumkan pembentukan "Emirat Islam Afghanistan". Emirat Islam Afghanistan adalah pengganti Republik Islam Afghanistan yang terakhir dipimpin oleh Presiden Ashraf Ghani yang kini telah melarikan diri ke Uni Emirat Arab. Rencana pembentukan Emirat Islam ini memang telah diumumkan Taliban sejak mereka berhasil menguasai Istana Kepresidenan di Kabul 15 Agustus lalu. Namun, sampai detik ini mereka belum memberikan gambaran yang jelas bentuk pemerintahan “emirat” yang akan mereka jalankan.

Mereka hanya menyatakan bahwa pemerintahan baru akan lebih insklusif, moderat, dan menjamin hak-hak perempuan. Dilansir dari Republika (20/21/2021), anggota senior Taliban, Waheedullah Hashimi, mengatakan bahwa struktur kekuasan pemerintahan emirat Islam akan memiliki kesamaan dengan pemerintahan yang dijalankan Taliban terakhir kali pada 1996 hingga 2001.

Sejumlah pertanyaan pun mencuat. Apa itu emirat Islam, apa bedanya dengan republik Islam seperti yang dijalankan sebelumnya, lalu apa bedanya dengan khilafah?

Secara bahasa emirat berasal dari bahasa Arab yaitu imarah yang artinya keamiran atau sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang amir. Pada masa awal kekhalifahan sampai beberapa masa berikutnya emirat adalah wilayah setingkat provinsi yang bertanggung jawab langsung kepada khalifah. Namun dalam catatan sejarah terdaat pula emirat yang berdiri sendiri sebagai negara merdeka. Contohnya seperti Emirat Granada di Andalusia dan Emirat Sisilia di Sisilia, Italia. Dalam konteks ketatanegaraan Arab, amir juga berarti pangeran atau putra raja/sultan. Dalam sejarah Indonesia, emirat bisa dibandingkan dengan kadipaten.

Baca Juga :
Terinspirasi Mahathir Mohammad

Di era modern, emirat adalah sebuah negara yang dipimpin oleh seorang amir dengan pemerintahanya berupa monarki baik monarki absolut maupun monarki konstitusional di mana kepala negara dan kepala pemerintahan berada di tangan amir yang diwariskan secara turun temurun. Contohnya saat ini adalah Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Dengan demikian, emirat Islam adalah sebuah emirat yang pemerintahnya berdasarkan hukum Islam. Contohnya adalah Emirat Islam Afghanistan yang pernah berkuasa 1996-2001 silam dan kini berkuasa kembali.

Kemudian, Republik Islam adalah adalah sebuah negara republik yang berdasarkan hukum Islam. Sebelum dijatuhkan Taliban, Afghanistan menganut bentuk negara republik Islam dengan kepala negara dan kepala pemerintahan berada di tangan presiden. Bagi negara republik, kepala negara dan kepala pemerintahnan di republik Islam juga dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum. Negara lain yang berbentuk republik Islam adalah Iran, Pakistan, dan Mauritania. Agustinus Wibowo, seorang penulis yang pernah mukim di Afghanistan mengatakan bahwa Republik Islam Afghanistan pun tetap merupakan negara Islam yang konstitusi dan undang-undang turunannya didasarkan pada hukum Islam.

Sementara khilafah atau kekhalifahan adalah bentuk pemerintahan Islam sedunia yang dipimpin oleh seorang khalifah. Kekuasaan khilafah melewati batas-batas geografis, etnis, dan bangsa dengan syariat atau hukum Islam sebagai sumber hukumnya. Khilafah pertama kali berdiri pasca meninggalnya Nabi Muhammad saw. dengan Abu Bakar Ash-Shidiq sebagai khalifah pertamanya dan berakhir pada tahun 1924 ketika Mustafa Kemal Attaturk menghapus Khilafah Turki Utsmani dan menggantinya dengan Republik Turki.

Namun perlu dipahami, bahwa model suksesi kepemimpinan khilafah era awal bisa dikatakan cenderung lebih demokratis. Keempat khalifah pertama atau Al-Khulafaur Rasyidun menjadi khalifah bukanlah atas dasar pertalian darah atau keturunan. Abu Bakar Ash-Shidiq dipilih secara musyawarah mufakat oleh masyarakat. Sebelum meninggal, Rasulullah tidak berwasiat tentang suksesi kepemimpinan setelahnya. Setelah beliau meninggal masyarakat mengalami kebingungan terkait siapa yang akan memimpin mereka. Bahkan mulai muncul pula tanda-tanda perpecahan politik. Karena itu tokoh-tokoh perwakilan Muhajirin dan Anshar berkumpul di Tsaqifah Bani Saidah untuk membicarakan suksesi. Setelah melalui lobi-lobi, semua perwakilan setuju membaiat Abu Bakar Ash-shidiq sebagai khalifah pengganti kepemimpinan Rasulullah.

Khalifah yang kedua Umar bin Khatab ditunjuk melalui wasiat. Sebelum meninggal Abu Bakar Ash-Shidiq mewasiatkan kepada umat Islam agar yang menjadi pemimpin selanjutnya adalah Umar bin Khatab. Masyarakat pun setuju dan taa atas wasiat tersebut karena memang semua orang sudah mengetahui kemampuan dan kecakapan Umar bin Khatab.

Baca Juga :
Lagi, Israel Tembak Mati Pemuda Palestina di Tepi Barat

Khalifah yang ketiga, Ustman bin Affan dipilih secara musyawarah mufakat oleh majelis formatur (ahlul halli wal aqdi) . Awalnya sebelum meninggal Umar bin Khatab menunjuk beberapa calon khalifah yang akan mengganikannya ketika ia meninggal. Diantara calonnya adalah Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Ali bin Abi Thalib. Setelah melaui musyawarah mufakat, tim formatur memilih Utsman bin Affan sebagai Khaifah yang ketiga.

Kemudian khalifah yang keempat, Ali bin Abi Thalib juga dipilih secara langsung oleh masyarakat sebagaimana Abu Bakar Ash-Shidiq. Hal ini terjadi karena Utsman bin Affan meninggal karena terbunuh dan belum sempat menentukan calon khalifah setelahnya. Selain itu, kondisi saat itu juga sangat kacau akibat terbunuhnya khalifah yang pelakunya sulit diketahui secara pasti. Kekacauan ini mengarah pada perpecahan politik. Untuk menyelematkan negara, beberapa sahabat membaiat Ali sebagai khalifah keempat dan diikuti oleh masyarakat luas.

Sepeninggal Ali bin bi Thalib kekhalifan sempat dilanjutkan oleh anaknya Hasan bin Ali. Namun kepemimpinannya berumur pendek karena tidak diakui secara umum oleh masyarakat. Akhirnya ia menyerahkan tahta kekhalifahan kepada Muawwiyah bin Abu Sufyan. Sejak saat itulah era Al-Khulafaur Rasyidun berganti menjadi era Daulah Bani Umayyah yang suksesi pemeritahannya dilakukan secara turun temurun hingga berganti era sampai kekhalifahan dihapuskan tahun 1924. Dengan demikian, kekhalifahan era awal lebih mendekati demokrasi. Hal ini sangat berbeda dengan kekahilafahan setelahnya yang sebenarnya adalah monarki yang rajanya memakai gelar khalifah.

Dari ketiga model pemerintahan ini, dapat disimpulkan bahwa perbedaan emirat dengan republik adalah bentuk negaranya di mana yang pertama dipimpin oleh seorang amir dan yang kedua dipimpin oleh seorang presiden. Dalam konteks Afganistan, Republik Islam yang diruntuhkan Taliban dianggap tidak kaffah atau tidak murni Islam sebab dibentuk oleh Amerika dan masih dalam pengaruh Amerika dan Barat. Sementara Taliban hendak membangun pemerintahan di mana hukum Islam akan diberlakukan secara sempurna.

Emirat Islam berbeda dengan khilafah. Emirat Islam hanya berkuasa diwilayah tertentu sementara khilafah berkuasa atas seluruh wilayah dan umat Islam sedunia. Sebuah emirat bisa merupakan bagian dari kekhilafahan dunia. Namun kita perlu berhati-hati untuk menilai apakah Emirat Islam Afghanistan merupakan bagian dari khilafah. Sebab, jika melihat apa yang dijanjikan Taliban, mereka ingin membentuk pemerintahan yang inklusif, moderat, dan behubungan baik dengan negara lain. Oleh sebab itu kita perlu untuk menunggu dan melihat bagaimana sepak terjang Taliban selanjutnya.(*)

Baca Juga :
PBB Kirim Bantuan ke Afghanistan Akibat Gempa Besar

Opini ditulis oleh:


Gun Gun Gunawan (Master Kebudayaan Timur Tengah UGM) dan


Prof. Dr. Istadiyantha (Guru Besar Kajian Timur Tengah UNS). 

Baca Juga :
2 Wanita Afghanistan Ditembak Ayahnya, Video Penembakan Viral di Media Sosial



Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA

Rekomendasi Untuk Anda

Terinspirasi Mahathir Mohammad

Opini | 17 hours ago

Islamofobia di India, Mengingkari Resolusi PBB

Opini | 24 Jun, 2022 13:08 WIB

Kali Ini Nasdem Salah Langkah?

Opini | 23 Jun, 2022 11:21 WIB