• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Tiga Faktor Pemicu Kasus Pencabulan di Taliabu Maluku Utara

Ilustrasi pencabulan. Foto: Pixabay
Ilustrasi pencabulan. Foto: Pixabay

MALUT, kilat.com- Kasus pencabulan terhadap anak di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara (Malut) terus meningkat.

Tidak sedikit gadis remaja yang masih bersekolah menjadi korban pelecehan seksual di Taliabu.

Seperti yang terjadi di Kecamatan Taliabu Barat beberapa bulan lalu, seorang siswi SMP dilaporkan dicabuli oleh oknum guru.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Taliabu menyebut kasus ini makin marak dari tahun ke tahun.

• Miras, Ekonomi dan HP menjadi pemicu utama

Kepala Dinas P3A Taliabu, Muhrida Donsi menyampaikan beberapa indikator pemicu terjadinya kasus pencabulan.

Baca Juga :
Terdakwa Penyalahgunaan BBM Subsidi di Taliabu Malut Divonis 7 Bulan Penjara

Muhrida mengatakan, minuman keras (Miras) adalah faktor yang memengaruhi pelaku untuk melakukan aksi kejahatan.

Disamping itu, pemicu kedua dapat terjadi ketika ekonomi keluarga terus menerus mengalami penurunan.

Persoalan ekonomi juga merupakan penyebab timbul kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Selain minuman keras (Miras), faktor ekonomi yang mempengaruhi kasus-kasus tersebut terjadi, ini kami terima berdasarkan BAP," ucap Muhrida.

Muhrida juga menambahkan, masalah urgent saat ini yaitu penggunaan handphone (HP) bagi anak-anak.

Baca Juga :
Sulteng Batasi Impor Pangan, Bagaimana Nasib Ketergantungan di Pulau Taliabu?

Ia menyampaikan sampel kasus yang terjadi misalnya di Desa Talo, Kecamatan Taliabu Barat.

Muhrida bilang, kasusnya seorang siswi tengah menonton video dewasa sembari menunjukkan kepada teman-temannya.

"Salah satunya juga itu HP, di Desa Talo itu dia putar (Vidoe dewasa) untuk temannya nonton video itu," ungkapnya.

Karena itu, DP3A Taliabu meminta orang tua dan pihak sekolah agar mengontrol anak-anak yang menjadi tanggungjawab mereka.

"Banyak anak-anak salah gunakan (HP) meski segi positif dan negatifnya ada," jelasnya.

Baca Juga :
Laju Inflasi di Taliabu Maluku Utara Capai 2,51 Persen

• Data kasus pencabulan terhadap anak di Taliabu kian meninggi

DP3A Taliabu melaporkan data kasus pencabulan terhadap anak di Taliabu rata-rata masih berusia dibawah usia 17 tahun.

Data yang dipaparkan pada tahun 2020 terdapat 6 kasus, meliputi pelecehan pada anak berjumlah 3 dan sisanya kasus KDRT.

Sedangkan di tahun 2021, kekerasan tersebut meningkat menjadi 9 kasus. Di antaranya, pencabulan pada anak 6 kasus dan KDRT berjumlah 3 kasus.

Kemudian pada bulan April 2022 berdasarkan data yang diterima pencabulan naik menjadi 6 kasus.

Berjalannya waktu, persoalan tersebut terupdate menjadi 14 kasus yang sama, sesuai bunyi laporan DP3A Taliabu.

Baca Juga :
Sambangi Maluku Utara, Presiden Jokowi Disambut Meriah Gubernur dan Pangdam

"Untuk tahun 2022 itu 14 orang, 11 orang korban pencabulan dan 3 orang KDRT," terangnya.

• Langkah DP3A mencegah serta melindungi korban

Program DP3A Taliabu dalam menghadapi kasu-kasus yang berhubungan dengan bidang mereka telah terwujud.

Salah satunya, pihak Dinas telah menganggarkan pengadaan rumah aman untuk melindungi korban.

"Tapi rumah aman ini tidak boleh kita publikasi (Rahasia) lokasinya. Sementara rumah aman ini kita masih ngontrak. Jadi kalau ada korban yang jauh dari ibukota kita suruh nginap disitu," aku Muhrida.

Muhrida mengaku, rumah aman yang dipakai itu bngunan warga yang dianggarkan untuk kontrak per tahun menggunakan APBD.

Baca Juga :
Jokowi Turun Langsung ke Sultra dan Malut Pastikan Bansos Sampai ke Warga Sulit Terjangkau

"Per tahun Rp24 juta, itu sudah termasuk dengan makan minum kita biayai semua," pungkasnya.

Kontributor: La Ode

Editor: Anggi

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA