• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Pers Jangan Bikin Berita Hoaks! Ayah Ferdy Sambo Bukan Polisi, Ini Profesi Jelasnya

Kadiv Propam nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo tiba untuk menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (4/8/2022) / Foto: Antara
Kadiv Propam nonaktif Irjen Pol Ferdy Sambo tiba untuk menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (4/8/2022) / Foto: Antara

JAKARTA, kilat.com- Nama Irjen Ferdy Sambo kini tengah diburu netizen seantero Tanah Air. Namanya ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia, baik di dunia maya maupun nyata. Ini terjadi setelah kasus penembakan ajudannya, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J mencuat.

Apalagi, Sambo kini menjadi tersangka pembunuhan berencana Brigadir J, setelah sebelumnya nyaris lolos dari jeratan hukum melalui berbagai upayanya.

Sosok Sambo sendiri dikenal sebagai putra dari jenderal polisi bintang dua, Mayjen Pither Sambo. Ini banyak terdokumentasi dari pemberitaan maupun artikel lainnya, seperti Wikipedia.

Namun ternyata faktanya, tidak demikian.

"Paman Ferdy, Pither Sambo adalah perwira tinggi Polri dan pernah menjabat Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara," demikian mengutip laporan investigasi Majalah Tempo, dikutip Senin (15/8/2022).

Baca Juga :
Duh! Stadion Kanjuruhan Tak Diverifikasi Jelang Bergulirnya Liga 1, Terakhir 2020

Sementara ayah Sambo hanyalah warga sipil biasa. Meski begitu, ia merupakan seorang pegawai negeri sipil (PNS) atau kini disebut aparatur sipil negara (ASN).

"Sedangkan Ferdy berasal dari keluarga sipil. Ayah Ferdy, William Sambo, pegawai negeri sipil di Dinas Peternakan Kota Makassar," kata Majalah Tempo.

Sementara, bisa dibenarkan: Putri Candrawathi, istri Sambo merupakan anak dari jenderal TNI.

"Putri, 48 tahun, adalah anak perwira tinggi Tentara Nasional Angkatan Darat yang pensiun dengan pangkat brigadir jenderal," lanjut Majalah Tempo.

Kendati bukan anak jenderal, karier Sambo di kepolisian tergolong moncer. Ia saat ini merupakan jenderal bintang dua termuda. Hal ini tidak terlepas dari kedekatannya dengan para pimpinan Polri terdahulu, hingga saat ini.

Baca Juga :
Mengerikan! Begini Kronologi Lengkap Tragedi Kanjuruhan

Ketika Tito Karnavian menjadi Kapolda Metro Jaya, Sambo merupakan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Lalu semasa Tito menjadi Kapolri, Sambo menjadi Koordinator Sekretaris Pribadi (Koorspri) Kapolri. Saat pucuk pimpinan Polri berganti ke Idham Azis, Sambo pun diangkat menjadi Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri.

Sampai akhirnya Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjadi Kapolri, dan Sambo dipromosikan menjabat Kadiv Propam Polri, yang artinya pangkatnya naik menjadi jenderal polisi bintang dua.

"Dia terkenal cerdas di angkatannya karena itu banyak ditempatkan di Jakarta," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada Majalah Tempo, Jumat (22/7/2022).

"Banyak riset yang ia lakukan, seperti riset mengenai apa perilaku polisi yang tidak disukai masyarakat," imbuhnya.

Baca Juga :
Kapolri Beberkan 5 Poin Penting Terkait Tragedi Kanjuruhan

Sejak duduk di bangku sekolah, Sambo dikenal sebagai pribadi yang cerdas, disiplin dan mudah bergaul. Ia kerap juara kelas.

Kini, karier cemerlang Sambo sebagai polisi nampaknya harus berakhir setelah ia menjadi tersangka pembunuhan berencana Brigadir J. Ia disebut memerintahkan Bharada E, yang juga ajudannya, menembak Brigadir J.

Sambo juga disebut menembak bagian kepala belakang Brigadir J sebanyak dua kali. Di samping itu, ia dikatakan menyusun skenario seolah-olah terjadi tembak-menembak di rumah dinasnya tersebut, antara Bharada E dengan Brigadir J, serta berbagai upaya lainnya untuk menyamarkan kasus pembunuhan ini.

Sambo kini ditempatkan secara khusus di Rutan Mako Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok. Atas perbuatannya, mantan Kadiv Propam Polri itu terancam hukuman mati.

"Dari hasil pemeriksaan menurut peran, penyidik menetapkan pasal 340 subsider pasal 338, juncto 55, juncto 56 KUHP," kata Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto, dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Baca Juga :
Tim Puslabfor Polri Diterjunkan Olah TKP Ambruknya Tembok di MTSN 19 Jakarta yang Tewaskan 3 Pelajar

"Ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun," imbuhnya.(yus)

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA