• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

CDC Sebut Masker Kain Tak Efektif Tangkal Omicron

Ilustrasi masker kain
Ilustrasi masker kain

JAKARTA, kilat.com- Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut masker kain sudah tak efektif menangkal virus corona varian Omicron, dibanding masker bedah atau respirator.

"Masker respirator dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu dan oleh orang-orang tertentu ketika perlindungan yang lebih besar diperlukan atau diinginkan," kata laman CDC dikutip dari New York Times pada Selasa (18/1/2022). 

Sebelumnya, CDC merekomendasikan individu dapat memilih untuk menggunakan respirator N95 sekali pakai ketika persediaan tersedia. Disebut respirator N95 karena masker jenis itu dapat menyaring 95 persen dari semua partikel di udara bila digunakan dengan benar.

CDC juga mengatakan masker bedah biasa adalah “alternatif yang dapat diterima” bagi dokter dan perawat ketika berinteraksi dengan pasien yang terinfeksi virus corona.

Butuh waktu berbulan-bulan lebih bagi CDC dan WHO untuk mengakui bahwa virus corona dapat dibawa oleh tetesan kecil yang disebut aerosol, yang dapat bertahan di dalam ruangan selama berjam-jam.

Baca Juga :
Apakah Vape Berbahaya untuk Kesehatan? Ini Faktanya!

Menurut deskripsi baru, produk masker dari kain tenunan longgar memberikan perlindungan paling sedikit dan produk tenunan halus berlapis menawarkan lebih banyak.

Masker bedah sekali pakai yang pas dan jenis masker respirator lainnya lebih protektif daripada semua masker kain. Dan respirator yang pas, termasuk N95, menawarkan tingkat perlindungan tertinggi.

Sementara itu, pengamat COVID-19 dr Ali Alkatiri  menyarankan penggunaan nose sanitizer sebagai tindakan pencegahan untuk membersihkan hidung dari virus.

"Masyarakat harus lebih menjaga diri dengan melakukan tindakan preventif yang lebih baik. Masyarakat harus paham bahwa manusia bisa terinfeksi virus COVID-19 karena virus masuk salah satunya melalui saluran pernapasan. Cara preventif yang harus dilakukan adalah memastikan virus tidak masuk ke paru-paru, atau membunuh virus yang sudah masuk di saluran pernapasan."

"Virus yang masuk akan berada selama beberapa hari di saluran pernapasan kita yaitu rongga hidung dan nasofaring, di saat itulah kita harus membunuh virus tersebut sebelum masuk ke paru-paru. Nose sanitizer dapat membunuh virus 95 persen dalam waktu 24 jam," kata dia.

Baca Juga :
Trik Merawat Luka Batin Sisi Gelap Diri Anda

Ali Alkatiri menyebutkan bahwa sejumlah negara sudah mulai menggunakan nose sanitizer seperti Inggris, Korea, Bahrain, dan Thailand.

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA