• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Bahlil Ungkap 4 Tantangan Investasi Indonesia

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia saat memimpin Rapat Koordinasi Penyusunan Peta Peluang Investasi (PPI) proyek prioritas strategis yang siap ditawarkan pada 2022 di Jakarta, Kamis (4/8/2022). ANTARA/HO-Kementerian Investasi/BKPM/am.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia saat memimpin Rapat Koordinasi Penyusunan Peta Peluang Investasi (PPI) proyek prioritas strategis yang siap ditawarkan pada 2022 di Jakarta, Kamis (4/8/2022). ANTARA/HO-Kementerian Investasi/BKPM/am.

BALI, kilat.com- Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menjelaskan empat tantangan investasi berkelanjutan pada pembukaan Trade, Investment, and Industry Ministerial Meeting (TIIMM) G20 di Nusa Dua, Bali.

"Pertama, investasi harus berkontribusi terhadap hilirisasi yang memiliki peran penting untuk mengakhiri siklus ketergantungan negara-negara berkembang terhadap komoditas mentah, sembari mengurangi dampak perubahan iklim," kata Bahlil Lahadlia yang juga co-chairman dari TIIMM G20 di Nusa Dua, Bali seperti dilansir Antara pada Kamis (22/9/2022)

Hal itu di nilai penting mengingat dua dari tiga negara berkembang di dunia memiliki ketergantungan terhadap komoditas mentah, sehingga perlu memberikan dukungan kepada negara berkembang yang ingin memajukan industri mereka melalui optimalisasi kebijakan pemanfaatan sumber daya alam, seperti yang pernah dilakukan oleh negara-negara maju pada awal revolusi industri.

Kedua, investasi yang berkelanjutan juga perlu ramah terhadap kepentingan masyarakat setempat.

"Oleh karena itu kita perlu memastikan bahwa investasi berkelanjutan juga menjadi investasi yang inklusif, diantaranya dengan mendorong kolaborasi investor dengan UMKM lokal," ujar Bahlil Lahadalia.

Baca Juga :
Wuih, Dikabarkan Negara G20 Ingin Investasi Pariwisata ke Indonesia

Ketiga, investasi membutuhkan keadilan, dimana saat ini tren investasi di bidang energi hijau masih sangat timpang.

Bahlil mengatakan hanya satu per lima saja dari investasi energi hijau yang mengalir ke negara berkembang. Dengan kata lain, dua per tiga dari total populasi dunia hanya mendapat satu per lima dari total investasi energi hijau.

"Termasuk di dalam perkara ini adalah ketimpangan antara harga kredit karbon di negara maju dan negara berkembang. Di masa depan kita perlu menyepakati aturan main mengenai pasar karbon yang lebih adil dan lebih berimbang tanpa standar ganda antara negara maju dan berkembang," kata Bahlil Lahadalia.

Tantangan terakhir yakni perlunya dukungan negara-negara untuk mengadopsi kompendium sebagai referensi kebijakan bagi penyusunan dan implementasi strategi dan program untuk menarik investasi yang berkelanjutan.

"Pertemuan kali ini kita harapkan dapat menghasilkan manfaat bagi pemulihan ekonomi dunia serta merumuskan agenda dan kebijakan tata kelola pembangunan internasional yang lebih kokoh," kata Bahlil Lahadalia.

Baca Juga :
ForBINA Tumbuhkan Minat Investasi Warga Aceh, Ini Caranya!

Ia menambahkan,Forum TIIMM G20 juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, memberikan perhatian yang kuat pada investasi yang menciptakan nilai tambah, kolaborasi sektor UMKM, dan mendorong ekonomi digital sebagai motor baru ekonomi.

"Sebagai kelompok negara dengan 80 persen dari GDP dunia, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendapatkan konsensus dalam mengelola pembangunan dan ekonomi dunia yang menjadi jembatan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu keadilan dan kemakmuran," pungkas Bahlil Lahadalia. (ara)

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA