• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Rugi Tiga Hari Berturut-turut, Emas Kembali Terperosok 13 Dolar

Ilustrasi - Tumpukan emas batangan pada uang kertas dolar AS. ANTARA/Shutterstock/aa
Ilustrasi - Tumpukan emas batangan pada uang kertas dolar AS. ANTARA/Shutterstock/aa

JAKARTA, kilat.com- Harga emas merosot lebih pada perdagangan Kamis (18/8/2022) pagi WIB, memperpanjang kerugian selama tiga hari berturut-turut menjadi di bawah level 1.780 dolar AS tertekan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang kuat.

Kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di Divisi Comex New York Exchange, jatuh 13 dolar AS atau 0,73 persen menjadi ditutup pada 1.776,70 dolar AS per ounce, menambah penurunan 1,40 persen dalam dua sesi sebelumnya seperti dilansir Antara pada Kamis (18/8/2022).

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 35,4 sen atau 1,76 persen, menjadi ditutup pada 19,731 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun 12 dolar atau 1,29 persen, menjadi ditutup pada 919,30 dolar per ounce.

Harga emas berjangka tergelincir 8,40 dolar AS atau 0,47 persen menjadi 1.789,70 dolar AS pada Selasa (16/8/2022), setelah anjlok 17,4 dolar AS atau 0,96 persen menjadi 1.798,10 dolar AS pada Senin (15/8/2022), dan menguat 8,30 dolar AS atau 0,46 persen menjadi 1.815,50 dolar AS pada Jumat (12/8/2022).

Tak lama setelah lantai perdagangan emas ditutup, Federal Reserve (Fed) merilis risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), menunjukkan Federal Reserve percaya bahwa sikap kebijakan yang lebih ketat diperlukan untuk memenuhi mandat ganda pengendalian inflasi dan meningkatkan lapangan kerja.

Baca Juga :
BI Perkenalkan Mata Uang Lokal ke Pengusaha China

Harga emas melihat dukungan akhir setelah Federal Reserve mengatakan dalam risalah pertemuan Juli bahwa kenaikan suku bunga AS dapat melambat di beberapa titik jika inflasi terus mundur dari tertinggi empat dekade yang terlihat awal tahun ini.

"Beberapa peserta mengindikasikan bahwa, begitu suku bunga kebijakan telah mencapai tingkat yang cukup ketat, kemungkinan akan tepat untuk mempertahankan tingkat itu untuk beberapa waktu," kata The Fed dalam risalah pertemuan 26-27 Juli, merujuk pada peserta dari pembuat kebijakan FOMC.

Banyak pejabat Federal Reserve juga khawatir tentang pengetatan yang berlebihan dengan risalah pertemuan mengatakan bahwa anggota FOMC waspada terhadap kenaikan suku bunga yang berlebihan dan merasa bahwa kenaikan suku bunga yang melambat mungkin tepat selama kondisi ekonomi yang lebih lemah.

Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Rabu (17/8/2022) bahwa penjualan ritel AS secara tak terduga tidak berubah pada Juli sebagai akibat dari penurunan harga bensin, lebih baik dari yang diperkirakan. (ara)

Baca Juga :
KPK Tegaskan Proses Penyidikan Lukas Enembe Tak Dihentikan Meski Klaim Miliki Tambang Emas

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA