• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Industri Kripto dan Blockchain Masih Bergairah untuk Pemodal Meski Pasar Sedang Lesu

Pemandangan representasi mata uang kripto Bitcoin yang jatuh ke dalam air dalam ilustrasi ini diambil, 23 Mei 2022. ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi
Pemandangan representasi mata uang kripto Bitcoin yang jatuh ke dalam air dalam ilustrasi ini diambil, 23 Mei 2022. ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi

JAKARTA, kilat.com- Industri kripto dan blockchain masih menjadi fokus utama investor modal ventura atau Venture capital (VC), walaupun market sedang lesu.

Akhir tahun 2021, Bitcoin turun 70 persen dari level tertingginya, saat VC menarik kembali investasi di sektor lain, aktivitasnya di startup kripto dan blockchain tetap sibuk seperti biasanya. Menurut Dove Metrics, terdapat 160 investasi publik oleh VC kripto bulan Juli lalu dengan total pendanaan berhasil mencapai 1,91 miliar dollar AS.

JP Morgan melaporkan pada 2022, investasi VC di industri kripto dan blockchain mencapai 18,3 miliar dollar AS atau hampir tiga kali lipat jumlah yang diinvestasikan tahun 2020.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda menyampaikan, meski market aset kripto sedang bearish, minat pemodal untuk mendanai startup atau proyek blockchain masih begitu tinggi.

Menurut dia, saat ini menjadi waktu tepat untuk menentukan startup atau proyek kredibel dan memiliki fundamental yang kuat untuk diinvestasikan.

Baca Juga :
Kompak, Mendag Zulhas dan Asosiasi Susun Strategi Lindungi Konsumen Kripto

Dia bilang, kripto winter tak menumpulkan selera investasi venture capital.

“Saya melihat modal tersedia dan bisa digunakan untuk investasi di startup kripto atau blockchain lainnya. Namun, beberapa VC kini lebih selektif untuk menentukan startup atau proyek mana yang akan mereka danai,” ujar pria yang akrab disapa Manda pada Jumat (5/8/2022).

Dia menyampaikan, kini VC bakal semakin fokus melakukan due diligence yang ketat dalam membuat keputusan menggelontorkan dana mereka. Menurut dia, perubahan perilaku VC ini sedikit berpengaruh melihat kondisi market dan risiko ekosistem kripto dan blockchain yang masih pada tahap awal perkembangan.

Pergeseran fokus berbeda pada bulan dan tahun sebelumnya, fakta bahwa satu atau lebih dana VC telah diinvestasikan dalam sebuah startup atau proyek yang biasanya cukup melihat perkembangan dari lonjakan nilai token kripto dalam ekosistemnya.

Namun, kini tidak menjalankan metode seperti itu lagi. Saat ini VC harus lebih berhati-hati dalam melakukan pendanaan ke startup atau proyek kripto maupun blockchain.

Baca Juga :
Aspakrindo Sebut Krisis Kripto Tak Pengaruhi Stabilitas Keuangan Global

“Banyak dari mereka telah melihat nilai investasi dan reputasi bisa anjlok, karena proyek yang mereka promosikan secara aktif mengalami kegagalan, seperti kasus Terra yang menghantam seluruh industri kripto,” katanya.

Tidak hanya VC, perusahaan besar maupun institusi juga terlihat mulai mantap memasuki industri kripto dan blockchain.

Terbaru BlackRock yang saat ini siap memberikan klien investor institusionalnya mereka akses ke investasi aset kripto.

Di Indonesia, telah terdapat sejumlah perusahaan besar yang tengah menjajaki pengembangan bisnis dengan memanfaatkan teknologi blockchain yang memiliki keunggulan transparansi, kecepatan transfer data, tingkat keamanan yang tinggi dan interoperabilitas.

Mulai dari industri hiburan, media sampai perbankan di Indonesia yang kami tengah melakukan pendekatan kerja sama untuk meningkatkan bisnis mereka melalui pemanfaatan blockchain.

Baca Juga :
Saran untuk Pemodal, Pilih Saham-saham Defensif Ini pada Awal Pekan

“Jadi, meski market kripto secara khusus sedang lesu, teknologi backbone-nya, yaitu blockchain masih menjanjikan untuk jangka panjang. Ini seperti revolusi internet di tahun 1990-an lalu,” jelas Manda. (ara)


Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA