• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Tarung Ulang Mega-SBY

Pemimpin Redaksi Kilat.com, Dr H. Imam Anshori Saleh, S.H., M.Hum.
Pemimpin Redaksi Kilat.com, Dr H. Imam Anshori Saleh, S.H., M.Hum.

Oleh: Imam Anshori Saleh

Pemilu dan Pilpres masih dua tahun lagi, tapi suasana panas sudah terasa. Tiba-tiba Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sudah menabuh genderang "perang". 

SBY menyebut dirinya harus turun gunung lantaran mencium bau Pemilu dan Pilpres 2024 bakal tidak fair. Ada penggiringan hanya akan ada dua pasangan calon presiden/wakil presiden. Juga ada bentuk kecurangan lain yang dirancang penguasa sekarang. AHY nenembak langsung. Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut hanya gunting pita proyek-proyek-proyek yang sesungguhnya sudah digagas SBY. 

Jokowi belum bereaksi soal dua tudingan itu. Hanya sejumlah kader PDIP dan anggota koalisi pemerintah yang tidak terima atas tudingan dan klaim dari ayah-anak SBY-AHY itu. Ya menuding Jokowi artinya juga menyindir PDIP dan koalisinya. Hasto Kristiyanto bertanya ringan, kalau SBY turun gunung, kapan naiknya?

 Adian Napitupulu menjawab lebih telak terhadap klaim AHY. Katanya sang Pangeran Cikeas hanya nyerocos ngomong tanpa data dan angka. Memanggapi SBY turun gunung diartikan Adian sebagai warning untuk anaknya, sampai-sampai ayahnya pun turun gunung. Artinya Ardian melihat AHY belum mampu mendongkrak dirinya sendiri.

Baca Juga :
Pesawat NASA Tabrak Asteroid Demi Lindungi Bumi dari Bencana

Ya perang opini dimulai. SBY-AHY ngegas bareng. Bisa ditebak ini disengaja untuk pemanasan sekaligus menaikkan elektabilitas Partai Demokrat yang sepuluh tahun terakhir suaranya melorot tajam. Bisa juga SBY ingin mengulang sukses dua dua kali Pilpres menang karena mengesankan dirinya menjadi pihak yang dizalimi.

Maka, bisa juga ditebak, SBY ingin memancing Megawati --bunda kandung PDIP dan koalisi pemerintah-- untuk segera turun gunung. Menyemprot Jokowi dan rezimnya sama saja dengan menarik Megawati ke medan perang. SBY tampaknya ingin membangkitkan romantisme memenangkan pertarungan dua pilpres, yang keduanya melawan Megawati. Apalagi Megawati juga sedang menyorongkan putrinya, Puan Maharani jadi calon presiden. Pelurunya (presidential threshold PDIP) pun sudah cukup. 

Dalam konteks ini SBY tidak lagi menampakkan wajah negarawannya, tapi dia lebih menonjol sebagai politisi yang ingin mengembalikan kekuasaan yang pernah dinikmati selama satu dasa warsa kepada anaknya. SBY seolah ingin mengulang pertarungan di dua pilpres. Tak lagi menghitung banyak hal berubah menjelang Pilpres 2024 ini. Dia tak lagi seperkasa dulu. Tanpa kekuatan dari pendamping setianya. Begitu juga Megawati tak lagi ada Taufiq Kiemas, sang poliitisi berkelas, di sampingnya.

Rakyat pun dengan mata telanjang dan tanpa narasi apa pun bisa membandingkan kinerja SBY dan Jokowi dan kinerja penggantinya. Tantangan dan kondisi global pun berbeda. Kita terus memantau jawab jinawab dan manuver dua entitas itu di pentas politik negara demokratis ini. Parpol dan pengamat pun ikut menimpali, menghangatkan suasana. Asyik juga menyaksikannya.

Toh soal kebenaran itu bukanlah hal utama dalam kamus politik. Walaupun semuanya mesti tetap menggunakan nalar sehat dan etika. Selamat berkompetisi.

Baca Juga :
Isu Coki Pardede Masuk Kristen Viral di Medsos usai Rehab Didampingi Pendeta

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA

Rekomendasi Untuk Anda

Menghadapi Pembangkangan Lukas Enembe

Editorial | 27 Sep, 2022 09:51 WIB

Kali Ini 'Tidak Masuk Mas Eko'

Editorial | 17 Sep, 2022 16:07 WIB

Geger Koruptor Bebas Berjamaah

Editorial | 11 Sep, 2022 08:30 WIB