• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
  • Masuk

Gawat! Empat Kota di Ukraina Ini Selenggarakan Referendum untuk Gabung ke Rusia, Apa Saja?

Serdadu Ukraina mengendarai pengangkut personel lapis baja (APC) di dekat kota Izium yang belum lama ini dibebaskan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina di wilayah Kharkiv, Ukraina timur, pada 19 September 2022. REUTERS/GLEB GARANICH
Serdadu Ukraina mengendarai pengangkut personel lapis baja (APC) di dekat kota Izium yang belum lama ini dibebaskan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina di wilayah Kharkiv, Ukraina timur, pada 19 September 2022. REUTERS/GLEB GARANICH

JAKARTA, kilat.com- Empat Kota di Ukraina menyatakan referendum untuk bergabung dengan Rusia pada hari ini, Jumat (23/9/2022) hingga 27 September mendatang.

Mengenai hal ini, Rusia siap sedia untuk mengambil alih empat kota tersebut, apabila digabungkan keempat kota itu bisa seluas Cirebon.

Keempat kota tersebut merupakan daerah yang telah lama diduduki oleh pasukan Rusia serta kelompok separatis pro-Moskow di timur dan Selatan Ukraina.

Di wilayah timur, Luhansk dan Donetsk akan menyatakan referendum untuk menentukan warganya apakah ingin bergabung dengan Rusia atau tidak.

Sedangkan di wilayah selatan Ukraina, Kherson dan Zaporizhzhia juga mengadakan hal yang serupa, yakni referendum. Dengan demikian, Ukraina terancam kehilangan ribuan kilometer wilayahnya.

Baca Juga :
Ngeri! Ogah Ikut Wajib Militer, Warga Rusia Nekat Berenang Lewati Sungai ke Estonia

Diketahui, kota Kherson memiliki luas sebesar 135 km, Zaporizhzhia 334 km, Donetsk 358 km dan Luhansk 257 km. Apabila dijumlah, total luas keempat daerah tersebut mencapai 1.084 kilometer.

Namun, jika dibandingkan engan kawasan di Indonesia, wilayah yang terancam hilang dari Ukraina adalah seluas Kabupaten Cirebon dengan luas 1.074 km.

Referendum tersebut muncul di tengah kekalahan tentara Rusia di kota Kharkiv dan sejumlah kemajuan pergerakan pasukan Ukraina. Menurut pengamat, Rusia melakukan referendum itu lantaran khawatir kalah di medan perang.

"Semua yang terjadi hari ini adalah ultimatum yang benar-benar tegas kepada Ukraina dan Barat. Entah Ukraina mundur, atau akan ada perang nuklir," kata pengamat politik di Moskow, Tatiana Stanovaya, seperti dikutip The Guardian, pekan lalu.

Ia kemudian melanjutkan, "Untuk menjamin 'kemenangan', Putin siap menggelar referendum segera mendapat hak menggunakan senjata nuklir untuk mempertahankan wilayah Rusia."

Baca Juga :
Ini Dampak dan Kerugian Jika Putin Nekat Gunakan Senjata Nuklir

Juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, sebelumnya memang sudah memperingatkan negara-negara Barat agar tak macam-macam terkait referendum ini.

Ia yakin keempat wilayah itu akan jatuh ke tangan Rusia. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu di keempat wilayah itu, Rusia akan menganggapnya sebagai gempuran terhadap teritori mereka.

"Pelanggaran di wilayah Rusia merupakan kejahatan yang akan ditanggapi dengan berbagai upaya pertahanan diri," tutur Peskov.

Ia kemudian berkata, "Itulah yang menyebabkan mereka yang di Kyiv dan Barat takut sekali akan referendum itu. Itulah yang menyebabkan (referendum-red) itu harus digelar."

Rusia sendiri sudah punya rekam jejak mencaplok wilayah Ukraina pada 2014 lalu. Saat itu, pergolakan pecah dan menyebabkan Crimea menggelar referendum.

Baca Juga :
Viral Wanita Asal Ukraina Ini Jago Berbicara Bahasa Aceh

Meski diduga banyak kecurangan, hasil akhir referendum itu menunjukkan sebagian besar warga Crimea ingin bergabung dengan Rusia. Moskow pun akhirnya mencaplok Crimea, walau tak pernah diakui komunitas internasional. (jri)

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA