• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Lawan Lifter Putri Indonesia di Tokyo 2020 Catat Sejarah Atlet Transgender Pertama di Olimpiade

Laurel Hubbard di Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Antara
Laurel Hubbard di Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Antara

TOKYO, kilat.com- Tahukah kamu jika lawan Nurul Akmal, lifter putri Indonesia, di cabang olahraga angkat besi Olimpiade Tokyo 2020 ada seorang atlet transgender?

Lifter asal Selandia Baru, Laurel Hubbard, membuat sejarah sebagai atlet transgender pertama yang bertanding di Olimpiade, namun dia harus keluar lebih awal di Tokyo 2020 karena gagal menuntaskan tiga angkatan snatchnya di Grup A kelas +87kg putri.

Hubbard yang berusia 43 tahun menjadi kontestan tertua dalam cabang angkat besi di Olimpiade Tokyo 2020. Persetujuan Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengizinkannya bersaing di Olimpiade sempat memicu perdebatan sengit tentang keadilan bagi peserta perempuan serta soal partisipasi atlet dari berbagai gender.

Hubbard sebelumnya turun di kelas putra sebelum memutuskan berganti kelamin menjadi perempuan pada 2013 lalu untuk bertanding di kelas +87kg putri di Olimpiade Tokyo 2020.

Dia awalnya diprediksi dapat meraih medali di Tokyo setelah memenangi perak kejuaraan dunia pada 2017 dan emas kejuaraan Oseania pada 2019.

Baca Juga :
Australian Open 2022: Unggulan 13 Terkapar, Unggulan Tiga Jumpa Jago Tua Kroasia

Namun kompetisinya berakhir dalam 10 menit sejak percobaan pertamanya. Ia gagal menuntaskan angkatan snatch dari tiga kesempatan yang ada.

“Saya tidak sepenuhnya menyadari kontroversi terkait partisipasi saya di Olimpiade ini,” kata Hubbard dikutip Reuters, Senin (2/8/2021).

“Namun saya secara khusus ingin berterima kasih kepada IOC karena saya pikir mereka telah menerapkan komitmennya terhadap nilai-nilai Olimpiade, bahwa olahraga adalah untuk semua orang," ujarnya lagi.

Hubbard telah memenuhi syarat untuk tampil di Olimpiade sejak 2015 ketika IOC merilis pedoman yang membuka kesempatan atlet transgender untuk bersaing sebagai wanita selama kadar testosteron mereka di bawah 10 nanomol per liter, setidaknya dalam 12 bulan sebelum kompetisi. (antara/sbn)

Baca Juga :
Australian Open 2022: Garbine Muguruza dan Anett Kontaveit Terhenti di Babak Kedua

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA