• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Strategi Baru Promosi Wisata Daerah Lewat Lagu

Brigjen TNI (Purn) Ismet Herdy
Brigjen TNI (Purn) Ismet Herdy

Sekarang ini upaya mensejahterakan masyarakat daerah salah satunya adalah membuka obyek wisata di daerah. Dengan ide ini, dharapkan bisa membuka peluang bisnis pariwisata untuk menarik wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Negeri kita yang indah dan kaya potensi pariwisata seperti laut, gunung, hutan, danau, tradisi, kuliner, seni tari , seni musik, kerajinan, seni murni hingga sejarah.

Dengan dibukanya obyek wisata tentu akan melibatkan banyak pihak yang bisa mendapat keuntungan. Seperti masyarakat setempat, kesadaran lingkungan hidup, usaha horeka (hotel, restoran, kafe), usaha warung kuliner tradisional, usaha grup adat istiadat, usaha garmen dan fashion, usaha grup seni tari, usaha grup seni musik, usaha grup seni murni (seni lukis, seni patung), usaha kerajinan, museum, perbankan, transportasi, supermarket, mall, pedagang eceran, mini market, pasar seni, pasar tradisional dan lain- lain.

Jadi masyarakat diberdayakan dan hidup. Investor juga akan ikut datang.

Ada Gula, Ada Semut

Ini semua harus ada upaya dan kerja keras Pemda Kabupaten/Kota dan masyarakat setempat sebagai garda terdepan dan juga Pemda Provinsi yang membuat aturan dan kemudahan dalam membangun obyek wisata ini. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya yaitu promosi agar wisatawan tertarik untuk datang dan investor tertarik untuk investasi.

Baca Juga :
Nusantara dan Indonesia Jaya

Kita mempunyai 34 provinsi dan tiap provinsi memiliki lebih dari satu obyek wisata. Selama ini tiap provinsi sudah melakukan promosi objek wisata melalui rekaman foto, video, film, suara, tulisan, dengan menggunakan berbagai media, radio, televisi, medsos, surat kabar, majalah, pameran, dan lainnya.

Hal tersebut sudah bagus. Tetapi kemungkinan orang yang tertarik, hanya masyarakat atau orang beserta keluarga atau grup yang ingin menikmati wisata, yang ingin santai, yang ingin olah raga dan tantangan, serta yang punya uang saja. Bagaimana dengan masyarakat atau orang seni atau seniman yang ingin menerapkan bakat seninya di lokasi wisata? Harus bisa diakomodasi juga. Apakah ada taman, ada arena seni dan sebagainya.

Kalau kita perhatikan konten atau materi promosi selama ini hanya berupa cuplikan- cuplikan materi keindahan alam atau fokus utama obyek wisata seperti pantai, gunung, danau, serta kegiatannya seperti surfing, diving, camping. Ditambah cuplikan tradisi, seni, kerajinan, dan berbagai fasilitas pendukung. Selain itu dilengkapi dengan narasi, video, foto, yang indah dan menarik.

Sebenarnya untuk Promosi ini kita bisa menambahkan agar lebih menarik dengan adanya lagu daerah dan lagu kekinian. Judul lagu ini yang menyebutkan keindahan dan puji- pujian yang tujuannya mempromosikan wisata tersebut. Penyanyinya dicari para penyanyi terkenal dari daerah tersebut yang sudah reputasi nasional bahkan Internasiosnal. Dan itu banyak. Hampir semua provinsi punya penyanyi bagus tingkat nasional.

Upaya ini akan menumbuhkan kebanggan penyanyi yang bersangkutan, dan juga membanggakan kabupaten/kota dan provinsinya. Keuntungan lain, memberi peluang bisnis kepada para pembuat lagu, musisi, dan perusahaan rekaman, dan tujuan mulianya memajukan potensi wisata Indonesia.

Baca Juga :
Umur Panjang di Okinawa dan Pentingnya Kumpul-kumpul

Seperti contohnya. Raja Ampat. Dibuat lagunya tentang keindahan Raja Ampat, dalam bahasa Indonesia, Inggris hingga Mandarin. Begitu pula Labuan Bajo, Borobudur, dan lainnya. Kalau saja tiap provinsi dibuatkan lagu hanya satu objek wisata saja, bernyayi lagu yang harus dibuat 34 lagu. Padahal objek wisata seluruh provinsi yang ada lebih dari 100. Selain itu kita juga turut menghidupkan kembali lagu-lagu daerah yang pernah populer tahun 60-an dan 70-an. Tiap daerah juga tidak boleh melupakan lagu yang pernah mengangkat nama daerahnya di masa lalu, serta tidak melupakan pencipta lagunya.

Upaya ini mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk bisa berpartisipasi, mensponsori dan menjadi leader dalam upaya promosi. Apalagi usaha bidang musik termasuk ekonomi kreatif yang di bawah pembinaan Kemenparekraf.

Demikian, tulisan ini sebagai sebuah pemikiran. Terima kasih. (*)


Penulis,

Baca Juga :
Menjumpai Gulungan Ombak Bono, Fenomena Unik di Sungai Kampar

Brigjen TNI (Purn) Ismet Herdy

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA

Rekomendasi Untuk Anda

Nusantara dan Indonesia Jaya

Opini | 5 hours ago

Sebuah Pernyataan Perang

Opini | 19 Jan, 2022 11:37 WIB