• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Jurnalis Peliput Olimpiade Tokyo 2020 Mengeluh: Ini Mah Bukan Liputan

Perempuan berdiri di depan sebuah restoran sebelum waktu tutup toko di Tokyo pada 20 Juli 2021. Foto: AFP-Antara
Perempuan berdiri di depan sebuah restoran sebelum waktu tutup toko di Tokyo pada 20 Juli 2021. Foto: AFP-Antara

TOKYO, kilat.com- Baru tiba beberapa hari di Jepang, wartawan asing peliput Olimpiade Tokyo 2020 mengumbar keluhan.

Ya, jurnalis asing yang meliput Olimpiade Tokyo 2020 keheranan karena baru mengetahui tahu apa yang mereka anggap kesempatan melaporkan keadaan di luar gelembung media, malah menjadi tur wisata berjaga jarak sosial tanpa boleh mengambil gambar.

Berharap bisa melaporkan suasana Tokyo di luar Olimpiade, Senin (19/7/2021), wartawan-wartawan luar Jepang itu malah diangkut oleh panitia penyelenggara yang seperti diburu waktu, dari satu tempat wisata kosong ke tempat wisata kosong lainnya, selama dua jam.

Wartawan asing yang umumnya dibatasi oleh aturan terkait Covid-19 untuk tidak bepergian di luar hotel dan situs-situs Olimpiade tersebut, kesal oleh langkah-langkah seperti pelacakan via GPS dan larangan mewawancarai warga biasa Jepang.

Sebaliknya sejumlah wartawan Jepang terus mengintai para pengunjung mancanegara guna memastikan mereka tidak melanggar aturan karantina.

Baca Juga :
Denmark Open 2021, Duo Greysia/Apriyani Gagal ke Semifinal

Mengingat Olimpiade Tokyo 2020 segera dibuka Jumat (24/7/2021), penyelenggara mengatakan pembatasan adalah cara tepat dalam memerangi penyebaran epidemi Covid-19 di Jepang. Media luar negeri memprotes penyelenggara karena membatasi kebebasan pers, lapor kantor berita Kyodo seperti dikutip Reuters.

Selain dipaksa berulang kali memeriksa suhu tubuh, kunjungan ke situs-situs wisata dibatasi paling lama 30 menit dan harus menjaga jarak sosial. Hari itu para wartawan mengunjungi situs-situs seperti Museum Nasional Tokyo dan Taman Hama-Rikyu, sebuah vila tepi teluk yang diperuntukkan bagi kaum feodal.

"Kami hanya pergi ke museum nasional tanpa dibolehkan mengambil gambar, jadi tidak ada gunanya bagi media," kata reporter peliput Olimpiade Tokyo 2020 asal Finlandia, Heikki Valkama.

Mikai Asai dari Dewan Pariwisata Jepang, mengatakan pihaknya hanya memberikan waktu senggang kepada wartawan yang terkurung untuk menjelajahi ibu kota dengan aman.

"Karena ada pembatasan, (wartawan) tidak diperbolehkan keluar mengambil gambar. Kami hanya ingin berbagi budaya Jepang, dan agar semua orang menikmatinya sebagai bagian dari keramahtamahan kami," beber Mikai Asai. (antara/sbn)

Baca Juga :
Lolos ke Perempat Final Denmark Open, Jonatan: Juara Piala Thomas Bikin PD

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA