• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Menikmati Semilir Angin Laut di Rumah Pohon Pulau Leebong

  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Jawa
    • Minang
  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Jawa
    • Minang
Pulau Leebong, di wilayah Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.
Pulau Leebong, di wilayah Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.

BELITUNG, kilat.com- Provinsi Bangka Belitung merupakan wilayah kepulauan dengan 470 pulau besar dan kecil, di mana 50 pulau di antaranya berpenghuni, serta memiliki potensi wisata alam yang memikat. Salah satunya adalah Pulau Leebong, di wilayah Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.

Pulau seluas 37 hektare ini tak hanya menyuguhkan koleksi keanekaragaman hayati dengan hutan mangrove asri yang jarang ditemui di kawasan lain di Belitung. Kita juga bisa menikmati penataan lanskap apik yang disesuaikan dengan kondisi alam sekitar. Pantai Chicas, misalnya. Letaknya di beranda belakang pulau, nama pantai ini diambil dari tanaman sikas yang banyak tumbuh di dekat pantai.

Sejauh mata memandang, hanya pasir putih sehalus tepung yang menguasai horizon. Meski sehalus tepung, tetapi pasirnya padat, sehingga bisa dilintasi oleh sepeda yang dapat kita pinjam secara gratis dari pengelola pulau.

Rupanya Pantai Chicas ini hanya muncul ketika air laut surut, yaitu di waktu pagi hingga menjelang pukul 14.00. Selapas waktu itu, jangan harap bisa menyaksikan lagi kemewahan pasir sehalus tepung tadi. Semua sirna, kecuali gazebo dengan pelataran dan kursi-kursi malasnya serta menara pantau. 

Unsur kayu juga melatari sejumlah bangunan yang terdapat di dalam pulau, mulai dari area rumah makan, kafe, penginapan pengunjung dan asrama karyawan, permainan ayunan, hingga dermaga pendaratan pengunjung sepanjang 300 meter menjorok ke lautan.

Baca Juga :
3 Kekayaan Alam Pulau Bangka yang Membuat Jatuh Cinta

Salah satu bangunan ikonik dari kayu di pulau ini adalah rumah pohon. Bangunan berkelir cokelat ini adalah satu di antara tiga jenis penginapan yang tersedia di Pulau Leebong. Rumah pohon ini dibuat oleh tangan-tangan terampil perajin kayu asal Jepara, Jawa Tengah. Bahan bakunya berupa batang-batang kayu bekas dan papan yang kemudian dirancang sedemikian rupa, termasuk memanfaatkan pohon-pohon hidup jenis simpor untuk dijadikan tonggak rumah.

Dibangun menggantung setinggi hampir delapan meter dari dasar lahan berpasir, rumah pohon ini dilengkapi belasan anak tangga berdesain unik, undakan-undakan anak tangganya begitu ramah dipijak dan setiap beberapa jejak dibuat semacam podium untuk perhentian. Semua bahan baku tangga memanfaatkan bekas batang pohon dan papan sehingga selain ramah lingkungan juga menampilkan kesan alami.

Atap rumah pohonnya berbahan daun kelapa yang dikeringkan. Seperti sebuah rumah, terdapat sebuah balkon menghadap ke pantai. Jarak balkon ke pantai tak lebih dari enam meter. Sebuah kursi goyang diletakkan tepat di bagian sampingnya. Balkon ini rupanya mengitari bagian samping rumah sehingga kita bisa melihat seluruh sudut lingkungan luar rumah hanya dengan berjalan menyusuri balkonnya.

Tepat di sisi kiri dari balkon utama, ada jalur tangga naik menuju balkon paling atas yang letaknya sekitar empat meter dari rumah pohon. Balkon paling atas ini mirip seperti menara pandang dan masih menjadi kesatuan dari rumah pohon. Di bangunan paling atas berkanopi atap rumbia ini, kita bisa menghabiskan waktu sambil menikmati semilir angin laut dan tak terasa bahkan bisa sampai membuat kita terlelap.

Begitu membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah pohon, terdapat dua ranjang empuk. Seperti sebuah kamar penginapan di hotel berbintang, ruangannya dilengkapi pendingin udara dengan kamar mandi berfasilitas modern.

Baca Juga :
Thailand Terapkan Program Bebas Karantina bagi Wisatawan

Tetap saja unsur kayu masih mewakili isi dari kamar mandi seperti gantungan baju berdiri yang diletakkan di sudut ruangan. Terbuat dari pokok kayu yang masih menyisakan batang-batang sebesar lengan anak kecil yang kemudian dicat khusus cokelat tua. Bahan kayu juga bisa dijumpai pada meja wastafel kamar mandi.

Boleh dibilang bagian kamar mandi menjadi ruang paling terang dari rumah pohon ini. Karena dipasangi kaca mengitari sepanjang dinding bagian atas. Sehingga cahaya alami bisa langsung menembus masuk ke kamar mandi.

Di sudut lain pantai juga ditancapkan beberapa ayunan kayu setinggi lima meter di atas pasir putih. Dengan latar belakang jernihnya air laut Belitung serta birunya langit diselingi awan putih berarak, lokasi ayunan kayu ini menjadi spot foto yang sangat menarik bagi para turis.

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA