• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Punya Anabul? Yuk Mengenal Virus Rabies dan Cara Mencegahnya

Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA, kilat.com- Selama pandemi terdapat tren peningkatan adopsi dan kepemilikan hewan peliharaan atau sekarang lebih dikenal dengan istilah anak bulu. Tren ini juga ikut terjadi di Tanah Air terbukti dengan masifnya orang-orang yang mengunggah foto hewan peliharaannya selama masa work from home berlangsung.

Sebagai pemilik hewan peliharaan atau pun “orang tua” dari anak bulu, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi untuk memastikan anak bulu dapat sejahtera. Salah satunya adalah menjaga kesehatan kucing atau pun anjing agar tidak mudah terserang penyakit.

Ada banyak ragam penyakit yang bisa menjangkiti kucing maupun anjing mulai dari jamur, kutu, hingga bakteri dan virus menjadi ancaman bagi kesehatan si kesayangan.

Virus Rabies adalah salah satu dari virus yang memiliki tingkat kefatalan bagi hewan peliharaan khususnya kucing dan anjing. Melalui air liur virus itu dapat ditularkan dari hewan ke hewan lainnya. Tidak hanya berbahaya bagi hewan, tapi juga berbahaya bagi manusia.

Hewan peliharaan yang terinfeksi rabies dapat menularkan virus itu kepada pemiliknya lewat gigitan yang membuat luka itu sebabnya rabies tidak hanya mengancam nyawa anak bulu tapi juga manusia.

Baca Juga :
5 Cara Menyenangkan Ajak Anak Masuki Dunia Ilmu Pengetahuan

“Virus rabies bisa masuk ke dalam ujung saraf yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai mencapai sistem saraf pusat yang biasanya pada sumsum tulang belakang, dan selanjutnya menyerang otak,” ujar Tim One Health Zoonosis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dokter Asep Purnama. 

Ada pun gejala awal yang timbul akibat rabies di antaranya demam disertai rasa kesemutan di tempat gigitan hewan, rasa tidak enak badan, mual, nyeri di tenggorokan.

Gejala itu dapat disusul dengan gejala yang lebih parah apabila tidak disadari dan tidak ditangani seperti cemas dan gelisah, reaksi berlebihan terhadap sentuhan, produksi air liur berlebih, pupil mata dilatasi, koma, hingga kemudian berakhir dengan kematian.

Guru Besar FK UI Prof. Dr. dr. Samsuridjal Dzauji, SpPD-KAI, FACP menyebutkan hingga saat ini belum ada obat yang ditemukan ampuh menangani pasien rabies baik untuk manusia maupun untuk hewan. Tentu hal ini mengkhawatirkan, namun berita baiknya penyakit menular rabies dapat dicegah dengan cara memberikan vaksinasi kepada hewan untuk memberikan kekebalan pada tubuh.

“Rabies dapat dicegah melalui vaksinasi di puskesmas atau rumah sakit. Oleh karena itu, untuk mencegah semakin banyaknya kasus rabies di Indonesia perlu dilakukan strategi pencegahan yang di mana salah satu cara utamanya adalah dengan melakukan vaksinasi rabies sesegera mungkin,” ujar dokter Samsuridjal.

Baca Juga :
Lisa Blackpink Debut di Runway untuk Rumah Mode Celine

Vaksin Anti Rabies (VAR) memiliki cara kerja membentuk sistem kekebalan tubuh sehingga dapat menangkal virus rabies. Secara teori vaksin tersebut membutuhkan waktu sekitar dua minggu agar bisa membentuk antibodi terhadap virus rabies.

Setelah antibodi terhadap virus rabies terbentuk sejak suntikan pertama, antibodi dapat bertahan di dalam tubuh selama satu tahun lamanya. Agar tetap terlindungi maka dibutuhkan pengulangan pemberian vaksin anti rabies setiap satu tahun sekali sehingga proteksi dari virus rabies dapat optimal.

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA