• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Kemanusiaan Palsu Kaum Islamis

Mush'ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc
Mush'ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc

Jika kita mendengar istilah kaum islamis, serentak nalar kita akan melihat kelompok yang bernama Al Ikhwan Al Muslimun serta kelompok-kelompok turunannya yaitu Al Jama’ah Al Islamiyah, Hizbut Tahrir, Al Qaeda dan ISIS. Kesimpulan menarik Ahmed Kuru terkait kaum islamis adalah semenjak dekade 1970an, pelaku aksi-aksi teror  di berbagai belahan dunia yang sebelumnya didominasi oleh kaum sosialis-komunis, kini posisi tersebut digantikan oleh kaum islamis. Sampai saat ini.

Kelompok ini berdiri tahun 1928 oleh Hasan Al Banna dan didukung oleh Kerajaan Mesir, protektorat Inggris, karena menyerukan agar Umat Islam di berbagai belahan dunia mendukung Raja Fuad I sebagai khalifah, menggantikan Turki Utsmani yang telah tumbang akibat kalah dalam Perang Dunia I. Sayangnya, para ulama Al Azhar tidak setuju dengan ambisi tersebut.

Tidak mungkin kekuasaan Khilafah yang bersifat global antar negeri, di bawah bayang-bayang kolonialisme. Tentunya hanya akan menjadi proxy negara adikuasa saat itu, yaitu Inggris, untuk meredam perlawanan Umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk India dan Indonesia.

Sejarah Al Ikhwan Al Muslimun penuh dengan konflik dan intrik, bahkan di internal mereka sendiri. Saat ini, Al Ikhwan Al Muslimun rebut dengan konflik internal antara faksi Ibrahim Munir di London Inggris dan faksi Mahmud Husain di Istanbul Turki. Penyebabnya adalah rasa tamak kedua faksi untuk mengkorupsi dana donasi.

Ibrahim Munir adalah Plt. Mursyid Am Al Ikhwan Al Muslimun. Mursyid Am adalah jabatan tertinggi setingkat ketua umum yang juga berperan sebagai ketua dewan Pembina. Posisi ini dijabat oleh Muhammad Badi, dengan 4 (empat) wakil yaitu Jum’ah Amin, Khairat Syathir, Mahmud Ezzat dan Rasyad Al Bayumi. Muhamamd Badi sejak Agustus 2013 ditahan oleh Kepolisian Mesir karena provokasi aksi kekerasan. Begitu juga wakilnya Khairat Syathir. Tahun 2020, Mahmud Ezzat ditahan. Akhirnya, Ibrahim Munir, ketua Jaringan Internasional Al Ikhwan Al Muslimun yang berada di London Inggris, ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt) Mursyid Am.

Baca Juga :
Senandung Duka di Awal Desember

Sementara itu, Mahmud Husain adalah sekretaris jendral yang sejak pertengahan tahun 2013 melarikan diri ke Istanbul Turki, meninggalkan sebagian besar kader-kadernya di Mesir dengan provokasi untuk terus melancarkan aksi-aksi kekerasan dan teror. Tentunya aparat keamanan tidak tinggal diam. Kader-kader Al Ikhwan Al Muslimun tidak sedikit ditangkapi. Penangkapan ini memunculkan ide untuk menggalang solidaritas dan dana donasi untuk keluarga tahanan. Sayangnya, Mahmud Husain mengkorupsi dana ini.

Donasi dari berbagai negeri Umat Islam mengatas-namakan perjuangan kemanusiaan, dikorupsi untuk modal bisnis  real estate dan hidup mewah oleh faksi Mahmud Husain di Turki. Begitu tuduhan yang ditembakkan oleh faksi Ibrahim Munir. Tidak mau ketinggalan, dana donasi dari Umat Islam di negara-negara Eropa dan Amerika juga dikorupsi oleh faksi Ibrahim Munir. Faksi Mahmud Husain menuduh Ibrahim Munir mengkorupsi dana donasi sebesar 2 juta US Dollar.

Mahmud Husain memboikot Ibrahim Munir. Kader-kader faksinya tidak menghormati Ibrahim Munir serta melayangkan berbagai tuduhan kepada pria sepuh ini termasuk menuduhnya sebagai mata-mata Barat atau negara kafir untuk membuat gaduh di dalam Al Ikhwan Al Muslimun. Ibrahim Munir marah besar akan tetapi tidak dapat bergerak karena roda organisasi dikuasai Mahmud Husain. Kuasa sebagai pelaksana tugas Mursyid Am digunakan.

Ibrahim Munir membubarkan Kesekretariatan Al Ikhwan Al Muslimun, sehingga secara otomatis Mahmud Husain tidak memiliki jabatan struktural. Juru bicaranya, Thal’at Fahmi yang merupakan kader faksi Mahmud Husain digantikan seorang politisi yaitu Usamah Sulaiman dan Shuhaib Abdul Maqshud. Majelis Syuro Al Ikhwan Al Muslimun digalang oleh Ibrahim Munir dengan sejumlah imbalan untuk memperkuat posisinya.

Atas nama kemanusiaan mereka menggalang donasi Umat Islam dengan dalih untuk keluarga para kader Al Ikhwan Al Muslimun yang ditahan, dengan segala narasi propaganda dan provokasi kebencian, bahkan takfir. Setelah terkumpul, bukannya disalurkan akan tetapi dicuci untuk memperkaya diri.

Baca Juga :
Bolehkah Pejabat Indonesia Bertemu Pejabat Israel?

Jika ditelusuri lebih mendalam, mental kaum islamis sangat korup. Aiman Fayid, mantan petinggi Al Qaeda pernah menceritakan kelakuan petinggi Al Ikhwan Al Muslimun mengkorupsi donasi Al Qaeda yang seharusnya digunakan untuk membeli senjata dan amunisi, dipergunakan untuk bisnis. Tidak hanya itu, obat-obatan kualitas Eropa yang seharusnya diterima oleh milisi-milisi asing di Afghanistan, dijual oleh kader-kader Al Ikhwan Al Muslimun. Mereka kemudian membeli obat-obatan yang harganya lebih murah dan kualitasnya lebih rendah dari Pakistan dan Vietnam, negara komunis madzhab Rusia.

Penggalangan dana donasi itu tentu dengan cover membela Islam dan kemanusiaan. Apakah mental korup juga diidap oleh kaum islamis di Timur Tengah ? TIDAK !

Sejak beberapa bulan lalu, masyarakat Indonesia digemparkan dengan temuan kotak-kotak amal yang ternyata selama ini digunakan untuk membiayai pengiriman para teroris ke Suriah. Mereka memiliki banyak dalih dan khayalan ke Suriah. Salah satunya adalah mereka berkhayal akan menjadi prajurit Imam Mahdi dalam peperangan Akhir Zaman yang dalam khayalan mereka berada di Suriah. Melalui khayalan ini, mereka menganggap rakyat Suriah yang tidka berdosa dan tidak sepaham dengan khayalan mereka adalah pengikut Dajjal, sehingga harus dimusnahkan.

Tentunya penggalangan dana di Indonesia dan belahan dunia lainnya selalu mengatas-namakan simpati rasa kemanusiaan. Akan tetapi kenyataannya mereka menggunakan dana donasi tersebut untuk membiayai kelompok-kelompok teroris dalam membantai rakyat Suriah yang tidak berdosa.

Beberapa waktu lalu penulis mengunjungi sebuah toko buku. Kemudian mendapatkan buku kecil yang menarik karya Riyanto, mantan komandan Pasukan Khusus GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Warsidi, berjudul Tragedi Lampung Peperangan yang Direncanakan. Bagian belakang halaman ini menarik karena ada tulisan “Melalui buku ini ditampilkan tiga tokoh kasus Talangsari (Lampung) yang pernah dan sebagian lainnya masih terus mengungkit-ungkit demi mendapatkan keuntungan materiel (finansial), dengan menjalin kerjasama dengan LSM.” Tentunya dengan dalih cover rasa kemanusiaan.

Baca Juga :
Memaafkan Itu Indah

Menarik lagi diksi yang digunakan Riyanto di halaman 76 buku ini. “Bila memang sudah bertekad atau sekedar terlanjur memutuskan untuk berperang, dan kemudian menderita kekalahan, tidak layak menyesal dan tidak sepantasnya menuntut sejumlah kompensasi kepada pihak yang menang.” Begitu tulis Riyanto di buku kecilnya yang diterbitkan Toko Gunung Agung. Atas nama kemanusiaan sebagai pihak yang kalah meminta kompensasi kepada negara yang dikafirkan. Sekali lagi, dengan dalih cover rasa kemanusiaan.

Begitulah kepalsuan hidup kaum islamis yang selalu mengkampanyekan kemanusiaan jika kalah. Mereka mencari pendanaan, ternyata digunakan untuk kepentingan pribadi dan mengirim teroris untuk memerangi rakyat Suriah tanpa rasa kemanusiaan. Bahkan dalih rasa kemanusiaan hanya digunakan untuk mencari penghidupan.

Penulis teringat kumpulan tulisan Al Habib Ali Zainul Abidin bin Abdurrahman Al Jufri yang terhimpun dalam buku “Al Insaniyyah qabla At Tadayyun” yang berarti kemanusiaan sebelum beragama. Salah satu tulisan tersebut membahas Kaum Islamis yang dalam kitab Maqaalaat Al Islamiyyin karya Al Imam Abu Hasan Al Asy’ari disebutkan bahwa diksi Islamis adalah untuk mereka yang mengaku memperjuangkan Islam dan justru saling bertikai demi kekuasaan mengatas-namakan Islam. Bahkan pemahaman akidah mereka sangat jauh dari Aqidah Islam. Salah satu yang disebut adalah kelompok Khawarij, yang selalu memprovokasi perlawanan kepada pemerintah dan membantai rakyat yang tidak berdosa hanya karena tidak sepaham dengan pemahamannya.

Pada bagian ini menarik, karena Al Habib Ali Al Jufri mengingatkan bahwa diksi muslim berbeda dengan diksi islamis, yang dijelaskan oleh Al Imam Abu Hasan Al Asy’ari. Arti dari kata ‘muslim’ adalah mereka yang menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan tulus, tanpa ada keinginan apapun untuk kepentingan duniawi. Sangat berbeda dengan Kaum Islamis yang tidak memiliki ketulusan dan mempermainkan rasa kemanusiaan, hanya demi memperkaya diri bahkan bangga menumpahkan darah umat manusia yang tidak berdosa.

Umat Islam di Indonesia dan belahan dunia lainnya perlu mawas diri jangan sampai donasi yang kita sumbangkan ternyata bukan untuk aktifitas kemanusiaan, malah untuk aktifitas yang sama sekali bertentangan dengan rasa kemanusiaan. Berapa banyak rakyat Suriah yang gugur, anak-anak menjadi yatim dan banyak pengungsi yang keluar dari negerinya karena ketakutan. Semua ini ulah pendaku pejuang kemanusiaan yang palsu, yang sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan. Tidak layak kaum islamis berbicara soal rasa kemanusiaan.

Baca Juga :
Ini Alasan Pembacaan Dakwaan Kasus Dugaan Terorisme Munarman Ditunda

Umat Islam di Indonesia dan di berbagai belahan dunia lainnya masih memiliki organisasi-organisasi keislaman yang tulus berjuang untuk kemanusiaan di antaranya Al Azhar, Muhammadiyah dan NU, yang selalu menyalurkan donasi dengan amanah. Juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, tidak hanya Umat Islam, akan tetapi juga umat manusia.

Penulis:

Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc, Pengamat Terorisme di Timur Tengah. **)


Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA

Rekomendasi Untuk Anda

Senandung Duka di Awal Desember

Opini | 33 minutes ago

Memaafkan Itu Indah

Opini | 03 Dec, 2021 11:56 WIB