• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Halua Kenari, Camilan dan Oleh-Oleh Khas Kepulauan Sula di Maluku Utara

  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
Saina Umasugi, saat mengolah buah kenari
Saina Umasugi, saat mengolah buah kenari

TERNATE, kilat.com- Halua kenari merupakan jenis camilan khas yang sering di temui di Provinsi Maluku Utara. Dengan rasa yang gurih dan manis, ternyata pembuatan halua kenari tidak begitu sulit. Untuk menciptakan kenikmatan halua kenari hanya diperlukan bahan dasar berupa buah kenari dan gula yang nantinya diaduk agar tercampur merata.

Dari penelusuran kilat.com, para pembuat camilan halua kenari kebanyakan berada di Desa Wailau, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula. Di Desa ini, warga hampir setiap saat membuat panganan ringan tersebut. Camilan halua kenari yang telah dibuat, biasanya dijual ke warung makan hingga ke pelabuhan untuk dijadikan sebagai oleh-oleh.

"Halua kenari dari Kepulauan Sula ini memiliki rasa yang manis dan gurih, karena terbuat dari campuran kenari dan gula. Di Desa Wailau ini, kami membuat Halua kenari tidak memakai gula merah sehingga rasanya garing dan tidak lengket," kata Saina Umasugi, warga Desa Wailau, pembuat Halua Kenari.

Saina mengaku, sekitar 70 persen warga setempat familiar dengan pembuatan Halua Kenari tersebut. Selain itu, halua kenari perlu dikembangkan karena cemilan ini telah diakui sebagai warisan kuliner sejak tahun 2019.


Baca Juga :
Museum Nyah Lasem, Potret Rumah Gaya Gladhak Jawa

"Setau saya Halua kenari sudah masuk Empat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal dari Sula yang di sahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2019, maka dari itu saran saya sebaiknya perlu ada perhatian khusus dari Pemda Sula untuk lebih mensejahterakan para pembuat dan penjual kenari dalam hal ini memberikan bantuan untuk usahanya," tuturnya.

Tidak hanya itu, Saina menjelaskan, selain untuk diolah menjadi cemilan dan makanan lainnya, buah kenari di desanya bisa dibuatkan untuk perawatan kulit. Untuk resep perawatan kulit, lanjut Saina, itu adalah racikan yang diajarkan sejak zaman dahulu oleh nenek moyang mereka, termasuk untuk pengobatan.

"Buah kanari bukan saja di olah sebagai Halua kenari akan tetapi isinya bisa di gunakan cemilan saat ngopi maupun ngeteh, dan juga bisa campurkan Dengan Kua ikan kuning, Sambal pedas, Bahkan Cangkangnya itu bisa di gunakan untuk perawatan kulit dan Pengobatan masalah kulit seperti Bisul ataupun gatal- gatal pada kulit," paparnya. (La Ode)

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA