• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Hasil Final Piala Thomas: Gasak China, Indonesia Akhiri Penantian 19 Tahun

  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
Anthony Sinisuka Ginting meluapkan ekspresinya usai membuka keunggulan Indonesia 1-0 atas China pada final Piala Thomas 2020. Foto: @bulutangkisri
Anthony Sinisuka Ginting meluapkan ekspresinya usai membuka keunggulan Indonesia 1-0 atas China pada final Piala Thomas 2020. Foto: @bulutangkisri

AARHUS, kilat.com- Indonesia mengangkat lagi trofi bulutangkis beregu putra Piala Thomas setelah terakhir kali merengkuhnya 19 tahun lalu. Itu setelah skuad Merah Putih menggapai trofi Piala Thomas mereka yang ke-14 usai menggasak China 3-0 dalam final di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/20/2021) malam WIB.

Pebulutangkis tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting menyumbang angka untuk Indonesia pada partai pembuka. Ginting menaklukkan Lu Guang Zu lewat rubber game 18-21, 21-14, 21-16 dalam waktu 1 jam 17 menit.

Di atas kertas, Ginting memang jauh lebih diunggulkan, mengingat saat ini ia merupakan tunggal putra peringkat kelima dunia, sedangkan Lu berada di urutan ke-27. Selain itu, dari dua pertemuan sebelumnya, Ginting memegang keunggulan 2-0. Mereka pernah berjumpa di turnamen Indonesia Open 2019 dan Japan Open 2019.

Namun Ginting tertekan di gim pertama. Permainannya tidak bisa berkembang. Sementara lawannya terus menyerang, dan Ginting terlambat menghalau bola, sehingga berbuah poin bagi Lu. Selain itu, Ginting juga sering membuat kesalahan sendiri. Pukulan-pukulannya seperti kurang bertenaga, sehingga shuttlecock mengenai net dan sering keluar lapangan.

Setelah kalah 18-21 pada set pertama, Ginting bangkit di set kedua. Dengan permainan yang lebih tenang, ia terus menambah poin hingga merebut gim kedua 21-14. Pada gim penentu, semangat dan kepercayaan diri Ginting benar-benar bangkit.

Baca Juga :
Panpel dan PBSI Lelang Peralatan Pebulu Tangkis IBF 2021 untuk Amal

Pemain berusia 24 tahun itu memimpin sejak awal permainan dan kian unggul, meninggalkan Lu yang masih sering membuat kesalahan sendiri. Meski sudah unggul 18-10, Ginting tetap tenang. Ia tidak terburu-buru menambah poin. Namun perlahan tapi pasti, Ginting menutup laga tersebut dengan kemenangan 21-16.


Pada pertandingan kedua, ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto mengatasi perlawanan He Ji Ting/Zhou Hao Dong dua set langsung 21-12 dan 21-19 dalam tempo 42 menit.


Setelah itu di partai ketiga, tunggal putra Jonatan Christie menghabisi Li Shi Feng 21-14, 18-21, dan 21-14.  

Baca Juga :
Sejarah Gegenpressing dan Deretan Pelatih Jerman di Liga Inggris

Atas kemenangan ini, Indonesia memperbaiki rekor pertemuan dengan China di Piala Thomas menjadi tujuh kali menang dan delapan kali kalah, sekaligus memutus lima kekalahan beruntun sebelum final 2020.

China masih berada di peringkat kedua dalam perolehan trofi terbanyak Piala Thomas dengan 10 gelar. Rapor mereka saat ini 10 kali menang dari 13 final yang dilakoni, dengan tiga kekalahan itu ditelan dari Indonesia. (sbn)

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA