• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Kereta Cepat Buat Apa?

Denny Siregar
Denny Siregar

Malam ini iseng pengen nulis bahas kereta cepat. Kereta cepat Jakarta Bandung ini sudah mau selesai, kemungkinan November tahun depan sudah launching.

Memang bangun kereta cepat itu gak mudah. Mulai biaya yang bengkak, kendala pembangunan di lapangan, belum lagi pertarungan China vs Jepang untuk teknologinya, ditambah pandemi yang membuat negara akhirnya harus campur tangan. Wah, banyak yang harus dibahas tapi gak cukup dituangkan dalam satu tulisan.

Tapi yang saya agak tergelitik adalah pernyataan Faisal Basri, seorang ekonom, yang bilang bahwa modal membangun kereta cepat tidak akan pernah balik sampai kiamat! Saya hormat pada beliau, karena pernah bareng di CokroTV sebagai host. Dan saya tidak mau ribut dengan hitung-hitungan ongkos kereta dan berapa tahun harus balik modal. Capek.

Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa dalam pembangunan yang berbasis teknologi seperti kereta cepat, hitung-hitungannya bukan hanya angka saja, tapi ada keuntungan atau benefit lain.

Misalnya, di setiap stasiun pemberhentian kereta cepat itu, akan tumbuh kota baru, ekonomi baru. Sekarang saja, tanah di sana sudah naik gila-gilaan. Siapa yang untung? Ya, masyarakat sekitar.

Baca Juga :
Piagam Madinah, Inspirasi Negara Bangsa

Belum lagi keuntungan ilmu dan transfer teknologi. Ini yang ga ada angkanya. China, dalam perjanjiannya, mau melakukan transfer teknologi supaya kelak kita bisa bangun kereta cepat sendiri. Jepang gak mau. Ini yang membuat Indonesia lebih suka kerjasama dengan China, supaya ada nilai tambahnya.

Diluar itu, adanya kereta cepat akan mempermudah arus barang sehingga biaya pengirimannya bisa ditekan. Tahu berapa menit yang dibutuhkan dari Jakarta ke Bandung dengan kereta cepat? Cuman 40 menit.

Bandingkan naik kereta biasa yang butuh 3 jam lebih. Apalagi dijaman jualan online gini, butuh kendaraan supercepat untuk kirim barang sehingga harga lebih murah.

Hitung-hitungan untuk teknologi gini, bukan kayak dagang sayur. Modal serebu, malam harus untung serebu lima ratus. Bukan. Ada nilai yang lebih besar sebagai efek ekonominya, yang akan kembali dalam jumlah ribuan kali lipat pada saatnya.

Cara pandang nilai ekonomi ini mungkin yang tidak dimiliki Faisal Basri, sebagai ekonom yang berkutat dengan cara lama dan konvensional.

Baca Juga :
Faisal Basri dan Kiamat Kereta Cepat

Saya pernah nanya ke seorang investor Gojek. "Gojek itu masih rugi, kok lu mau invest sih?"

Dia ketawa lebar. "Cara berpikir perusahaan multinasional seperti Gojek itu, gak bisa dinilai hari ini bahkan 10 tahun ke depan. Cara berpiikirnya harus lebih luas, bahwa dalam waktu 50 tahun ke depan, jutaan orang akan bergantung pada Gojek bukan hanya dalam transportasi saja, tapi juga kehidupan sehari-hari kita. Berapa nilainya investasi gua ketika itu terjadi? Ribuan kali lipat.. "

Itulah kenapa, meski Gojek dibilang masih merugi dan berdarah-darah, investasi yang masuk sampe tumpah-tumpah. Orang menghitung masa depan, bukan masa sekarang. Itulah kenapa orang seperti Elon Musk sampe harus jual rumahnya untuk bikin bisnis perjalanan ke Mars. Dia melihat masa depan, bukan masa sekarang.

Begitulah cara berpikir sekarang. Dan Jokowi cara berpikirnya, visinya, sudah ratusan tahun ke depan. Bahwa kelak Indonesia menjadi negara yang sejajar dengan negara lain dalam tehnologi sehingga dihormati. Karena hubungan antar negara itu seperti hubungan bisnis, mereka akan saling menghormati jika berada pada level yang sama.

Tapi ya banyak orang ga akan ngerti. Susah juga saya menjelaskan pada orang yang menganggap utang negara itu sama dengan mereka utang ke koperasi. Padahal bedanya jauh sekali..

Baca Juga :
Mustafa Kemal Attaturk di Kawasan Menteng?

Ya udah, mending ngopi aja sambil membayangkan Larry Page dan Sergey Brin yang menghabiskan waktunya di garasi untuk bikin aplikasi, diejek orang karena dianggap malas dan tidak mau kerja biasa cari uang, lalu sekarang nilai valuasi perusahaannya yaitu Google, ada di angka triliunan dollar.

Itu nilai masa depan sebuah investasi.

Sudah saatnya seruput kopi..(*)


Penulis: Denny Siregar, kolumnis, pegiat media sosial. **)

Baca Juga :
Frans Wenas dalam Kenangan

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA

Rekomendasi Untuk Anda

Faisal Basri dan Kiamat Kereta Cepat

Opini | 21 Oct, 2021 12:41 WIB

Mustafa Kemal Attaturk di Kawasan Menteng?

Opini | 20 Oct, 2021 08:36 WIB