• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Celeng Berjuang Melawan Demokrasi Terpimpin

Imam Anshori Saleh
Imam Anshori Saleh

JANGAN anggap remeh gerakan, "Celeng Berjuang". Jangan anggap mereka kelompok kecil yang tak perlu diperhitungkan. Partai menjadi besar itu karena akumulasi dari dukungan kelompok kecil. Gerakan perlawanan mesti disikapi dengan bijak bukan terus dinistakan.

Barisan "Celeng Berjuang" lahir karena Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto kesal dengan kader PDIP di daerahnya yang bergerak mendukung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden di Pilpres 2024. Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul pun murka, menjuluki para kader dengan celeng bukan lagi banteng, simbol PDIP Perjuangan. Maklum Bambang Pacul menggadang calon presiden Puan Maharani.

Ternyata sebutan "celeng" Bambang Pacul ini berbuntut panjang. Para kader PDIP pendukung Ganjar mengamini sebutan celeng dari Bambang Pacul. Mereka bahkan sampai membuat logo untuk menandai diri.

DPP PDIP lewat Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno pun nimbrung, ingin menertibkan kader-kader PDIP yang berada di struktur kepengurusan. Mungkin dibanding keseluruhan kader PDIP, jumlah "barisan celeng berjuang" tak banyak. Tapi bisa jadi itu ibarat gunung es, mereka sedikit dari jumlah besar kader penentang yang tidak muncul. Kalau perlakuan kasar Bambang ternyata direstui DPP PDIP, bisa diartikan tindakan Bambang Pacul mereprentasikan sikap DPP PDIP.

Ada pengamat yang menyebut Barisan Celeng Berjuang sebagai perlawanan terhadap gaya "demokrasi terpimpin" yang dilakukan PDIP. Mestinya PDIP menyerap masukan yang disampaikan sejumlah kader secara bijak. Penyebutan celeng dengan tujuan menista kemudian dijadikan identitas perlawanan dan sangat berbahaya. Menjelang Pilpres alih-alih PDIP meraih dukungan, malah menambah musuh di tubuhnya sendiri. Apalagi ternyata kelompok yang terzalimi itu mendapat simpati dapat menggerakkan nurani kalangan yang lebih luas.

Baca Juga :
Pinjol Ilegal dan Regulasi yang Gagal

Sudah bermunculan di media sosial dukungan terhadap Barisan Celeng Berjuang. Ini yang dikhawatirkan menjadi benih penyebaran sikap antipati tehadap "banteng yang menyeruduk celeng" 69 malah akan melahirkan kesadaran publik �" menentukan pilihan yang benar dalam Pemilu dan Pilpres 2021. Kemungkinan nantinya ada pihak lain yang sengaja memancing di air keruh, "Barisan Celeng Berjuang" akan semakin kuat dan berani melawan banteng yang tengah menikmati rumput hijau kekuasaan.(8nk)


Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA

Rekomendasi Untuk Anda

Pinjol Ilegal dan Regulasi yang Gagal

kilatPandang | 21 Oct, 2021 08:02 WIB

Juara tanpa Kibaran Merah Putih

kilatPandang | 18 Oct, 2021 16:03 WIB

Taburan Covid di PON Papua

kilatPandang | 12 Oct, 2021 06:15 WIB