• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Ilmuwan Estonia Gunakan Gambut untuk Membuat Baterai, Ini Peluang Besar Bagi Indonesia

Ilmuwan di Universitas Tartu membuat baterai berbasis karbon menggunakan gambut, di Tartu, Estonia. Foto: Reuters
Ilmuwan di Universitas Tartu membuat baterai berbasis karbon menggunakan gambut, di Tartu, Estonia. Foto: Reuters

JAKARTA, kilat.com - Para peneliti di Universitas Tartu Estonia, mengungkapkan, gambut, yang berlimpah di Eropa utara, dapat digunakan untuk memproduksi baterai ion natrium dengan harga murah. Baterai yang dihasilkan bisa digunakan untuk kendaraan listrik.

Jika penelitian ini valid, maka temuan tersebut adalah peluang besar bagi Indonesia untuk bisa memproduksi baterai mobil listrik. Sebab, Indonesia kaya akan lahan gambut.

Baterai natrium-ion, yang tidak mengandung litium, kobalt, atau nikel yang relatif mahal, adalah salah satu teknologi baru yang sedang dilihat oleh pembuat baterai. Bahan tersebut ditemukan sewaktu mereka mencari alternatif untuk model baterai lithium-ion yang dominan.

Para ilmuwan di Universitas Tartu Estonia, mengatakan, mereka telah menemukan cara untuk menggunakan gambut dalam baterai natrium-ion. Teknologi itu mengurangi biaya secara keseluruhan, meskipun teknologinya masih dalam tahap awal.

“Gambut adalah bahan mentah yang sangat murah, tidak memerlukan biaya apa pun, sungguh,” ungkap Enn Lust, Kepala Institut Kimia di Universitas Tartu, Estonia, Kamis (14/10/2021).

Baca Juga :
Misi ke Bulan, NASA Gelar Tantangan Bikin Makanan untuk Astronot

Prosesnya meliputi pemanasan gambut yang telah terurai ke suhu tinggi dalam tungku selama 2-3 jam. Universitas berharap pemerintah mendanai sebuah pabrik skala kecil di Estonia untuk mencoba teknologi tersebut.

Penyuling di Skotlandia mengeringkan malt di atas api gambut untuk membumbui wiski, dan beberapa negara Eropa utara menggunakan gambut untuk bahan bakar pabrik dan rumah tangga, atau sebagai pupuk.

Saat rawa dikeringkan untuk menambang gambut, mereka melepaskan karbon dioksida yang terperangkap, meningkatkan masalah lingkungan. Tetapi para ilmuwan Estonia, mengatakan, mereka menggunakan gambut yang membusuk, produk limbah dari metode ekstraksi tradisional yang biasanya dibuang.

"Baterai natrium-ion yang menggunakan gambut perlu membuktikan layak secara komersial dan dapat ditingkatkan," ujar Lukasz Bednarski, analis pasar dan penulis buku tentang baterai kepada Reuters.

CATL China pada bulan Juli menjadi pembuat baterai otomotif besar pertama yang mengungkap baterai natrium-ion. "Saya pikir perusahaan akan semakin mencoba untuk mengkomersialkan baterai natrium-ion, terutama setelah pengumuman CATL," tambah Bednarski.

Baca Juga :
Fosil Mengandung DNA Dinosaurus Ditemukan, Film Jurassic Park Mendekati Kenyataan

Dia menuturkan, baterai natrium-ion yang kurang kuat kemungkinan akan digunakan bersama dengan teknologi lithium-ion. Ini untuk menurunkan biaya keseluruhan paket baterai.

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA