• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Menengok Kampung Asei, Rumah Para Perajin Kriya Kulit Kayu di Papua

  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
Mama Maryones membuat ikat kepala dari kulit kayu sebagai mata pencaharian utama di Kampung Asei.
Mama Maryones membuat ikat kepala dari kulit kayu sebagai mata pencaharian utama di Kampung Asei.

JAYAPURA, kilat.com- Salah satu buah tangan khas Papua yang digandrungi para pelancong adalah hasil kriya dari kulit kayu yang masih sangat mengandalkan teknik pembuatan tradisional. Kita bisa melihat langsung sentra para perajin kulit kayu tersebut di Bumi Cendrawasih, tepatnya di Kampung Asei yang berdiri di tengah Danau Sentani.

"Dari kecil sa (saya) melakukan ini, dari zaman nenek moyang kita su (sudah) kerjakan ini tiap hari. Dimulai dari anting-anting sampai sekarang mahir semua kerajinan," kata mama Maryones Onge (46), salah seorang warga asli yang tinggal di Kampung Asei.

Kerajinan kulit kayu merupakan salah satu mata pencaharian andalan di Kampung Asei. Sejak dini, anak-anak di kampung adat itu diwajibkan untuk mempelajari keterampilan membuat kerajinan tangan.

Di masa perhelatan PON XX Papua, penduduk Kampung Asei beramai-ramai datang ke kota untuk ikut meramaikan pelaksanaan ajang multievent nasional empat tahunan itu. Di sana, mereka menjajakan produk keseniannya untuk dijadikan sebagai pilihan buah tangan. Setiap harinya, mama Maryones bisa membuat banyak kerajinan mulai dari ikat kepala, tas kulit kayu, hingga rumbai tradisional yang menjadi bagian dari pakaian adat dari Negeri Mutiara Hitam.

"Kalau topi (ikat kepala) sehari sa bisa bikin 20 paling banyak, tapi corona kemarin sa kesulitan jual ini," ujarnya.

Baca Juga :
Kemenkum HAM Bantu Mediasi Pengunaan Lagu 'Aku Papua' Tanpa Izin

Dulu saat hari normal, Kampung Asei selalu ramai didatangi wisatawan yang ingin berlibur. Namun sejak adanya pandemi Covid-19, hasil kerajinan dan kegiatan di kampung wisata Asei pun terpaksa terhenti.

"Biasanya ada kapal putih itu bawa turis asing ke sini. Sekitar 3 sampai 6 bulan sekali. Mereka pasti beli ikat kepala dan kerajinan kulit kayu yang kami buat. Tapi sejak corona ini kami mencukupi kebutuhan sehari- hari sebisanya," jelas mama Maryones.

Kehadiran PON Papua dilihatnya sebagai salah satu langkah kebangkitan dari ekonomi kerakyatan yang terpukul akibat pandemi. Mama Maryones juga senang karena dirinya bisa terlibat aktif menyemarakkan perayaan PON pertama di kawasan paling timur Indonesia. 

Ia menceritakan dalam waktu tiga minggu sebelum PON berlangsung, keluarganya ikut membuat ikat kepala hingga ratusan pesanan untuk melengkapi pakaian para penari yang menghibur masyarakat pada pembukaan pesta olahraga nasional itu. 

Selain ikat kepala, mama Maryones juga membuat rok rumbai yang masih berbahan dari kulit kayu alami agar penampilan para penari tetap terlihat menyatu dengan alam. Lewat karya-karya seni rupanya itu, ia ingin menunjukan bahwa masyarakat Papua memiliki kreativitas tak terbatas dengan tetap mempertahankan nilai budayanya. Setiap karyanya diharapkan dapat membawa kebahagiaan dan juga kedamaian bagi para pengguna atau penerimanya.

Baca Juga :
Digital Nomad, Tren Pariwisata Baru di Indonesia

Jika tertarik untuk berwisata ke Kampung Asei, Anda bisa menyeberang dari Dermaga Kalkhote Distrik Sentani Timur. Anda juga dibolehkan untuk melakukan tawar menawar dengan perahu-perahu yang menyediakan jasa penyebrangan. 

Perjalanan menuju Kampung Asei sangatlah dekat, hanya menempuh waktu sekitar 5 menit. Selama di perjalanan, Anda akan disuguhi dengan pemandangan alam yang masih asri bersamaan dengan jernihnya air Danau Sentani yang memberikan sensasi relaksasi.

Di Kampung Asei, selain bercengkrama langsung dengan penduduk asli yang ramah, Anda dapat membeli kriya kulit kayu yang dibanderol mulai harga Rp50.000 hingga Rp500.000, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan seni rupa. 

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA