• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

MPR: Kartel Pangan Berkuasa, Indonesia Jadi Negara Agraris Terbelakang

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid / Foto: AM Arpas/Kilat.com
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid / Foto: AM Arpas/Kilat.com

JAKARTA, kilat.com�" Indonesia memiliki kekayaan wilayah pertanian yang luar biasa. Sayangnya, cita-cita bangsa ini untuk menjadi lumbung pangan dunia masih jauh panggang dari api. Buktinya, para petani kita banyak yang hidup miskin. Selain itu, komoditas pangan kita masih banyak yang bergantung pada impor.

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, kebijakan pertanian di Indonesia sebenarnya sudah cukup ideal. Pertanyaannya kenapa pertanian kita dan Indonesia belum bisa menjadi negara agraris yang maju pertaniannya.

”Menurut saya bukan soal kebijakannya saja, tetapi implementasi dari kebijakan yang ada. Masalahnya tidak semata-mata dari undang-undang, tentang kebijakan kita. Sampai hari ini petani kita atau Indonesia belum bisa disebut sebagai negara lumbung pangan dunia padahal pangan itu sangat penting. Hari ini kedaulatan pangan petani kita belum menjadi kekuatan, belum mampu menciptakan swasembada,” ujar Gus Jazil pada acara Kebangkitan Tani Indonesia dalam rangka Hari Tani Nasional dan Hari Ulang Tahun ke-7 Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) secara virtual, Kamis (23/9/2021).

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, dulu era Orde Baru Indonesia pernah swasembada pangan. Hal ini menjadi pertanyakan ketika sekarang justru tidak bisa. ”Dulu saya pernah di Komisi IV, kita memutuskan swasembada di 5 sektor: gula, padi, garam, kedelai, dan jagung. Tetapi sampai hari ini juga belum selesai. Pertanyaannya ini soal ideologi, atau anggaran, atau soal pembinaan dan implementasi,” ungkapnya.

Menurutnya, hal ini menjadi persoalan besar ketika Indonesia sebagai negara agraris namun tidak mampu mengejar cita-cita untuk swasembada di sektor pangan dan tidak mampu menaikkan indeks kesejahteraan petani.

Baca Juga :
Tabrak Babi Liar, Nelayan di Bengkulu Dilarikan ke RS

”Jangan berkata anggaran kita tidak cukup, tapi apakah benar semua program dan kebijakan yang sudah diputuskan itu mampu diimplementasiklan. Saya kok melihat ada banyak masalah. Lahan bermasalah, Distribusi pupuk itu bermasalah, penyediaan bibit itu juga bermasalah. Bahkan petaninya pun bermasalah akhirnya karena indeks petani juga belum terlalu baik,” ujarnya.

Hal lain yang menjadi soal, kata Gus Jazil, apakah masyarakat kita dan anak-anak muda bangga menjadi petani. Sebab, saat ini anak-anak muda justru meninggalkan sektor-sektor pertanian dan tidak bangga lagi untuk menjadi petani. ”Kalau begitu berarti ancaman kedepan kita bisa kekuaran pangan. Dan kalau kita kekurangan pangan atau ketanahan pangan kita rapuh maka negeri kita juga akan rapuh,” tuturnya.

Di sisi lain, Gus Jazil juga mengkritisi banyaknya permainan kartel di berbagai komoditi pertanian yang menyebabkan petani kita tidak berdaya. ”Banyak produk pertanian yang itu menjadi game politik dalam konteks tata niaganya. Kartel ada di gula, kartel ada di kedelai, di bawang putih, kartel juga ada di daging. Ini semua masalah sehingga petani kita kemudian tidak mampu untuk bisa berdaya,” tambahnya.

Menurut Gus Jazil, kebijakan tata niaga pertanian ini sangat penting untuk menjadi perhatian pemerintah. Sebab, sering kali ketika petani panen, kemudian harganya jatuh. ”Tata niaga itu penting. Kebijakan menyangkut harga komoditas pertanian, distribusi dan penjualan hasil pertanian itu penting,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Gus Jazil menegaskan bahwa faktor implementasi kebijakan pertanian menjadi sangat penting. Pihaknya mendorong Gerbang Tani untuk menjadi bagian dalam mengkritisi sekaligus mengoreksi dan mengawasi semua implementasi dari semua kebijakan pertanian, baik kebijakan dalam hal pengadaan bibit, kebijakan lahan, anggaran, termasuk tata niaga pertanian.

Baca Juga :
Polres Lumajang Berhasil Bongkar Produsen Sabu Rumahan

”Hari ini muncul porang, orang mengejar porang. Saya bahkan bertanya dimana komoditas pertanian Indonesia yang menjadi unggulan. Mana tanaman pangan yang kemudian bisa menjadi andalan dari petani Indonesia. Sesungguhnya kebijakan pertanian kita itu cukup bagus, alokasi anggaran meskipun belum maksimal itu sudah ada, tetapi tata niaga, pembinaan kepada petani, mengatur komoditas-komoditas yang ditanam di setiap wilayah itu yang belum cukup baik,” katanya.

Gus Jazil berharap Gerbang Tani menjadi pelopor atau perintis kembalinya Indonesia menjadi negara agraris yang berwibawa dan betul-betul menghasilkan komoditi-komoditi pertanian andalan dunia, serta menjadi sentrum kekuatan pertanian dan pangan dunia. (AM Arpas/niko


Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA