• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Warga di Taliabu Keluhkan BLT Dipotong untuk Bangun Masjid, Kades: Miskomunikasi

Ilustrasi rupiah. Foto: Pexels.
Ilustrasi rupiah. Foto: Pexels.

TALIABU, kilat.com- Seorang warga di Desa Parigi, Taliabu Timur, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, mengeluh karena dana yang diterima dari Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) miliknya dipotong.

Menurutnya, dana desa yang harus diterimanya sebesar Rp300 ribu, malah disunat sebesar Rp200 ribu per orang, sehingga hanya mendapatkan Rp100 ribu.

"Pada saat Pembagian BLT itu, saya dikasih hanya Rp100 ribu padahal yang seharusnya saya terima itu Rp300 ribu, ini berarti sudah dipotong Rp200 ribu," kata warga penerima BLT, yang menolak namanya disebutkan. 

Ia menduga pemotongan dana BLT yang diterimanya digunakan untuk pembangunan masjid di wilayah setempat tanpa ada pemberitahuan.

"BLT yang dipotong dengan alasan untuk pembangunan mesjid itu tanpa ada musyawarah dengan kami warga penerima bantuan," tuturnya.

Baca Juga :
Jual Hasil Tes PCR Negatif di Bandara Kualanamu, Pria Ini Akhirnya Diciduk Polisi

Kepala Desa (Kades) Parigi, Burhan Hamli, membantah adanya pemotongan dana BLT. Sementara itu, mengenai dugaan pemakaian dana BLT yang disunat untuk pembangunan masjib, ia mengatakan ada kesepakatan antara Pemdes dan warga untuk pengumpulan dana guna merehabilitasi masjid di desa Parigi. Sehingga, Burhan menyimpulkan rehabilitasi masjid itu berasal dari dana pribadi warga.

"Jadi begini, permasaalahanya bulan yang lalu itu, ada musyawarah setelah habis kerja pengecoran 4 tiang Ka'aba, kami dan warga sama-sama menyepakati untuk membuat masjid, dengan kesepakatan bahwa pengumpulan dana Rp100 per orang selama 4 bulan. Artinya, per keluarga disepakati Rp400 ribu. Dan itu bukan potong dana BLT yang dipotong, tapi keikhlasan dari seluruh warga, ini merupakan kesepakatan hasil musyawarah," ungkap Burhan kepada Kilat.com, Kamis (23/9/2021). 

Lanjut Burhan, perjanjian tersebut sudah berlangsung dua bulan. Bahkan, sejumlah warga juga telah melunasi biaya tersebut. Ia pun mengira bahwa dugaan warga tentang pemotongan BLT hanya miskomunikasi pihak keluarga yang tidak menyampaikan kepada keluarga lainnya. Selain itu, menurutnya, dugaan potongan tersebut dipicu lantaran bertepatan dengan proses pembagian BLT.

"Jadi saya hanya ingatkan saja, setelah itu baru pembagian uangnya, mereka ambil langsung utuh Rp300 ribu per KK, tanpa ada potongan. Namun setelah itu, bagi yang berniat mau membayar mereka temui langsung Kadus masing-masing, ada yang bayar, ada juga yang tidak, mereka tidak dipaksa. Saya pun selaku Kepala Desa hanya mengimbau, mengingatkan akan kewajiban yang sudah disepakati," terang Kades. 

Kontributor: La Ode
Editor: spa

Baca Juga :
Jalan Medan-Berastagi di Sumut Longsor, Lalu Lintas Lumpuh Total

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA