• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Mengarungi Sejarah Panjang Cikini dan Menengok Wajahnya di Masa Kini

  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
Kantor Pos Cikini
Kantor Pos Cikini

JAKARTA, kilat.com- Masyarakat mengenal Jalan Cikini Raya sebagai lokasi Perguruan Cikini yakni sekolah bagi anak pejabat dan orang berduit, lokasi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tempat lahirnya seniman dan aktor terkenal, hingga lokasi Taman Ismail Marzuki (TIM) tempat digelarnya berbagai pertunjukan seni. Tapi lebih dari itu, kawasan Cikini menyimpan cerita dan sejarah panjang yang mengiringi perjalanan Jakarta sejak zaman kolonial hingga saat ini.

Berbagai catatan menyebutkan lahan di Kawasan Cikini pada zaman kolonial dimiliki oleh seorang pelukis keturunan Jawa-Arab yang menjadi kaum sosialita kalangan atas yang namanya bukan hanya dikenal di Jawa, namun juga sampai ke Eropa. Nama pelukis itu adalah Saleh Sjarif Boestaman atau Raden Saleh, yang merupakan salah satu pelukis legendaris yang karyanya melegenda hingga saat ini.

Menurut berbagai catatan, setelah sekitar 20 tahun belajar, berkarya, hingga tinggal di berbagai belahan wilayah Eropa bahkan di Aljazair, Raden Saleh akhirnya kembali ke Jawa, membeli lahan luas dan membangun sebuah rumah yang didasarkan Istana Callenberg di lokasi yang sekarang menjadi Rumah Sakit PGI Cikini.

Saking luasnya lahan yang dimiliki, Raden Saleh kemudian menghibahkan untuk dijadikan kebun binatang dan taman umum pada 1862. Akhirnya semua lahannya di Cikini dihibahkan kepada pemerintah kolonial setelah Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 dan menyusul istrinya Raden Ayu Danudirja tiga bulan kemudian.

Perkembangan Cikini

Baca Juga :
Bongkar 13 Pinjol Ilegal, Polri Tetapkan 57 Orang Jadi Tersangka

Setelah dikuasai pemerintah, Cikini awalnya diproyeksikan sebagai penunjang kawasan perumahan orang-orang Eropa di Nieuw Gondangdia atau yang sekarang dikenal sebagai kawasan Menteng yang ditandai dengan hadirnya kawasan pertokoan dan didirikannya Kantor Pos Cikini (Tjikini Post Kantoor) pada 1920.


Kantor pos yang terletak di mulut Jalan Cikini ini dibangun dengan tujuan melayani pengiriman berbagai surat dan barang serta menjamin agar surat-surat para penduduk, terutama bagi pedagang yang datang dari luar Jawa dan kerap bepergian ke luar dan masuk Belanda tetap aman. Dengan gedung tua bergaya artdeco yang bertahan dan masih beroperasi saat ini, kantor pos pertama di Indonesia yang buka 24 jam ini, kini menjadi salah satu ikon kawasan Cikini.

Tak jauh dari kantor pos, berdiri salah satu pusat bisnis yang pertama berdiri di Cikini, adalah Pabrik Roti Tan Ek Tjoan yang didirikan sejak 1921 dengan produk roti gambang yang keras namun lembut di dalam yang diperuntukkan untuk konsumsi orang-orang Belanda, namun seiring perkembangan zaman varian produknya kian diperluas untuk semua kalangan.

Akan tetapi, kini toko dan pabrik roti tertua di Jakarta tersebut sudah tidak lagi beroperasi karena sejak tahun 2015 Pemprov DKI Jakarta membuat kebijakan tidak boleh ada pabrik di pusat kota, sehingga Pabrik Tan Ek Tjoan saat ini berada di Ciputat. Namun penganan legendaris ini masih bisa dijumpai di sekitar Jakarta, termasuk Cikini yang dijual secara berkeliling.

Baca Juga :
Pengamat: Syarat Wajib PCR Memberatkan Penumpang Pesawat


Seiring perkembangan zaman, kota Jakarta juga ikut tumbuh hingga membuat kawasan Cikini semakin ramai dengan berdirinya banyak rumah tinggal dan semakin hidupnya berbagai aktivitas perekonomian.

Seperti di lokasi yang tidak jauh dari eks pabrik roti Tan ek Tjoan, di mana berdiri toko kacamata milik Atjoem Kasoem (A. Kasoem) pria berdarah Sunda yang diketahui merupakan orang Indonesia pertama yang menguasai cara pembuatan kacamata dan bahkan karyanya sempat dijadikan "official glass" pemerintah Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Meski bukan toko pertama yang dimiliki oleh Kasoem, namun toko kacamata A. Kasoem di Cikini ini, kini dijadikan kantor pusat Kasoem Group yang bisnisnya berkembang ke bidang kesehatan indra pendengaran.

Berjalan lagi ke arah Selatan, berdiri rumah megah yang pasti akan menjadi perhatian orang yang melintas, milik seseorang bernama Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning yang lebih dikenal dengan nama Hasyim Ning.

Baca Juga :
Hari Pertama Dibuka, Ribuan Pengunjung Padati Ragunan

Hasyim Ning diketahui merupakan seorang pengusaha asal Sumatra Barat yang pernah dijuluki Raja Mobil Indonesia atas aktivitas bisnisnya sebagai importir mobil asal Amerika. Saking mencoloknya hunian tersebut, rumah bercat putih yang ditinggali keturunan Hasyim Ning tersebut konon pernah dijadikan lokasi shooting film legendaris Catatan Si Boy.


Di seberang jalan yang tak jauh dari rumah Hasyim Ning, terdapat pusat seni budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dulunya (bersama lahan Institut Kesenian Jakarta) merupakan pekarangan rumah dari Raden Saleh yang dihibahkan untuk dijadikan taman publik dan kebun binatang dengan nama Taman Raden Saleh pada tahun 1864.

Berselang 100 tahun yakni pada 1964, Taman Raden Saleh yang kemudian berubah jadi Kebun Binatang Cikini itu dipindahkan ke Ragunan agar memiliki lahan yang lebih luas dalam menampung banyak satwa. Akhirnya di bekas lokasi kebun binatang itu, didirikanlah pusat kesenian dan kebudayaan yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 1968.

Selain lokasi-lokasi tersebut, di Cikini juga terdapat tempat bersejarah lainnya yang menyimpan cerita dan keunikannya masing-masing, mulai dari kediaman dan tempat usaha penjualan tiket berbagai acara dari Ratu Tiket Indonesia Ida Kurani Soedibjo (Ibu Dibjo), sampai kafe legendaris racikan Bakoel Koffie yang merupakan warung kopi di Batavia yang sudah berdiri sejak abad ke-19 (1878).

Baca Juga :
DKI Buka 32 Titik Wisata Pulau Seribu Kapasitas 5.725 Orang

Lalu ada Rumah dari Menteri Luar Negeri Indonesia pertama Achmad Soebardjo yang sempat jadi Kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia; hingga kediaman dari "pemilik" Cikini itu sendiri yakni Rumah Raden Saleh yang kini menjadi kantor Rumah Sakit PGI Cikini.

Cikini telah melintasi zaman dan menemani ibu kota Jakarta dengan karakter metropolitannya yang terus dikembangkan. Berbagai proyek juga telah dilakukan untuk mempercantik dan membuat nyaman kawasan yang terletak di jantung ibu kota ini.

Dan kini, publik menantikan berkah yang akan dibawa dari kawasan Cikini yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata perkotaan (urban tourism), dengan tak mengurangi nilai sejarah dan budaya dari kawasan itu sendiri.

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA