• Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • kilat_multilingual Pilih Bahasa
    • Indonesia
    • English
    • Arabic
    • Mandarin
    • Sunda
    • Batak
    • Jawa
    • Banjar
    • Bali
    • Minang
    • Irian (Papua)
    • Dayak
    • Aceh
  • Masuk

Melihat Peradaban di Tanah Papua melalui Situs Megalit Tutari Doyo Lama

Situs Megalit Tutari Doyo Lama
Situs Megalit Tutari Doyo Lama

DOYO LAMA, kilat.com- Tanah Papua yang eksotis selalu memiliki beragam cerita yang menarik untuk dibagikan pada dunia. Salah satunya mengenai peradaban yang berkembang di surga kecil itu. Meski tak bisa menembus waktu dan kembali ke masa lalu, kita bisa melihat perjalanan sejarah tersebut melalui Megalitik Tutari, alias situs Peradaban Papua.

Tutari merupakan sebuah kawasan cagar budaya berbentuk situs megalitik yang berada di atas bukit berketinggian antara 150-200 meter di atas permukaan laut. Letaknya di Kampung Doyo Lama, yang permukimannya dibangun berbaris rapi mengikuti alur tepian Danau Sentani. Jika diperhatikan, bagian ujungnya adalah sebuah tanjung yang kerap disebut sebagai Bukit Teletubbies.

Di bagian timur laut dari situs yang masuk wilayah Distrik Waibo di Kabupaten Jayapura ini, terhampar Pegunungan Cycloop dengan bentang alam mempesona, memanjang dari barat ke timur.

Situs ini dapat dijamah dengan berkendara sejauh 7 kilometer selama 20 menit dari Bandar Udara Sentani, dan sekitar satu jam berkendara dengan jarak 42 km dari pusat kota Jayapura, Ibu Kota Provinsi Papua. Mendatangi tempat ini sama artinya dengan menyaksikan warisan budaya peninggalan manusia yang bernilai sejarah tinggi dari zaman prasejarah Papua.

Situs megalitik Tutari memiliki ciri khas berupa peninggalan arkeologi yang begitu lengkap. Salah satunya seperti temuan lukisan pada bongkahan-bongkahan batu. Uniknya, bebatuan tersebut  tersebar hampir di semua permukaan situs. 

Baca Juga :
Pengamat: Syarat Wajib PCR Memberatkan Penumpang Pesawat

Tampak pula susunan bebatuan temugelang, batu berjajar, batu-batu berlukis, dan kelompok mehnir. Mereka semua berpencar hingga ke puncak bukit dan menyembul di antara tingginya ilalang, semak belukar, serta pohon-pohon kayu putih. 

Mengutip hasil penelitian Balai Arkeolog Jayapura, disimpulkan bahwa pada masa lampau, lokasi itu dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan religius bagi masyarakat Tutari, salah satu suku di barat Danau Sentani.

Berdasarkan penuturan para tokoh masyarakat Doyo Lama, suku Tutari pernah ada sekitar 6000 tahun silam di sebuah perkampungan bernama Tutari Yoku Tamaiyoku. Tetapi, mereka akhirnya punah ketika terlibat perang antarsuku untuk memperebutkan wilayah dengan Ebe, suku yang berasal dari wilayah Pulau Yonoqom atau Yonahang. Suku Ebe meleburkan seluruh isi dan masyarakat Tutari hingga nyaris tidak menyisakan apa pun. Kecuali tempat pemujaan berbentuk bongkahan batu dan menhir.

Suku Ebe kemudian hidup berpindah, tidak hanya menguasai bekas wilayah Tutari. Mereka juga plesiran ke Tanjung Warako, dan bergeser ke Ayauge di utara sebelumnya akhirnya menetap di tepian Danau Sentani. Suku penakluk Tutari ini kemudian diketahui sebagai nenek moyang dari masyarakat Kampung Doyo Lama, Kwadeware, dan Yakonde.

Baca Juga :
Demi Keamanan, 4 Terpidana Kasus Pembunuhan di Manokwari Dipindahkan ke Makassar

Silakan Masuk untuk menulis komentar.

RECAPTCHA